Lukisan ini karya pelukis senior Sumenep, Tamar Saraseh.

Apokalips Abad 21

 

 

1.

 

Nixon, 1972. Selamat datang

di neraka yang dihuni para supir lori.

 

Kau telah ada di sini, sekarang

lari keluar dan lihatlah,

kilang matahari membuat kota

kehilangan mata.

 

Tapi jangan kecewa. Atau kalau mesti

kecewa, cukup gitarmu

dan nada-nada minor itu

yang berujar,

 

“Maaf, Lennon, di sini tak ada pahlawan

kelas pekerja. Mereka korban

dari kutukan jam kerja + lembur

dan gaji yang lekas lebur . . .

 

Yang kau cari hilang di penghujung

abad 20. Tak ada di sini, tak ada

di abad terkutuk ini.”

 

 

2.

 

Di bawah kuasa kami,

kalian lahir dan tumbuh besar

dengan kerendahan hati

yang kami sematkan pada zaman.

 

Tom Sawyer dan Huckleberry Finn

telah mati tenggelam di perairan

Mississippi; tak ada lagi Mark Twain

memberkati masa kanak kalian.

 

Kalian takkan lagi main peran

Petualang vs. Bajak Laut;

kalian hanya akan duduk

dan meluncurkan peluru kendali

dari dalam video-game.

 

Menjadi manusia

di bawah kuasa kami

berarti menjunjung tinggi

kebanggaan. Dan kebanggaan

ada dalam kerja, sebab kalian

buruh, kalian semua berutang

status quo kepada negara.

 

Harga diri untuk ditelan,

iman untuk ditahan; berikan

jiwa-raga kalian, agar kami

bisa mengendalikan kerugian.

 

Bagi kalian yang percaya

pada keadilan, silakan

tunggu hari penghakiman;

 

bagi kalian yang percaya

kepada kami, serukan: Puja

kebebasan! Kemerdekaan!

Serukan: Pada ketaatan

Kebebasan kami tunduk!

 

 

 

 

 

Iblis Dalam Jiwa Kami

 

 

Ada iblis (banyak iblis) dalam jiwa kami,

mereka yang bernama amarah, amuk,

pasukan infanteri, para pemberontak

yang akan menampik kehormatan,

apa yang kau sebut kepatuhan.

 

Iblis dalam jiwa kami akan menjelma

suara (paduan suara) yang bangkit,

meruntuhkan patung-patung

monumenmu jadi tepung.

 

Iblis dalam jiwa kami akan menebar

kekacauan, ketika darah ditumpahkan

atas nama apa pun yang jadi dalihmu—

keamanan tanah air atau omong kosong

tentang terorisme dan senjata nuklir.

 

Kami dan iblis dalam jiwa kami takkan diam.

Diam adalah musuh kami. Kami dan iblis

dalam jiwa kami takkan pura-pura buta,

sementara kau menebar benih bual

di seantero dunia.

 

 

 

 

 

¡Viva la Gloria!

 

 

Duduklah di tepi ini sejenak

Matahari terbenam di ufuk

 

Kita takkan selamanya muda belia, Gloria.

Kulit pucat keriput ini bukti rasa sakit

yang diberikan tahun-tahun. Tapi kita

takkan beranjak tua atau mati sia-sia.

 

Biar kudekap kau sebentar, sebelum api

dinyalakan dan perang akbar ini dimulai.

Kita bisa berdekapan dan berbagi doa

(atau slogan) dari jantung ke jantung.

 

Percayalah, dalam pertempuran,

dalam cinta yang tak kenal binasa,

sepasang kekasih senantiasa abadi

seperti revolusi, seperti revolusi.

 

 

 

 

 

Lobotomi

 

 

Sebuah rumah

dalam nuansa sepia.

 

Sebuah rumah,

keluarga bahagia

dalam nuansa sepia.

 

Di dalam sana,

terdengar nyanyian.

Segalanya hangat,

setiap orang dekat.

 

Di luar, hujan

membasuh mimpi

yang berserakan.

 

Mimpi-mimpi

yang diembuskan

mulut mala

seperti bensin

membakar.

 

Dan terbakarlah

segala sesuatu,

tawa dan lagu

di hari-hari itu.

 

*

 

Anak kecil

yang pernah tertawa

menyanyikan lagu

di rumah itu, kini

menggenggam batu.

 

Ia hendak merajam

mimpi-mimpinya—

dalam mimpinya

langit runtuh

merajamnya.

 

Sejak itu, mimpi-mimpi

jadi lobotomi:

 

Ia telah berpindah

dari dunia indah

ke suatu wilayah

pecah-belah.

 

Ia menggenggam batu,

membidik rumah

bernuansa sepia itu.

Membidik mala

masa lalu.

 

 

 

 

 

Lutfi Mardiansyah, lahir di Sukabumi, 4 Juli 1991. Menulis puisi dan prosa, serta menerjemahkan karya sastra. Buku puisinya yang telah terbit: Di Tepi Rawi (Kentja Press: 2020). Saat ini tinggal di Bandung bersama istri, anak, dan seekor kura-kura.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here