Untuk : Hudan Hidayat, Teratai Abadi, Lia Amalia Sulaksmi, Nova Linda, Umirah Ramata.
Catatan proses : Fendi Kachonk

Hey,  ini kak Odi kan,? Sapaku. Dan di sampingnya berdiri perempuan dengan kaca mata yang aku lihat dia sangat cantik, dan aku kembali menegur. Wah!  Kalau ini pasti teh Lia Amalia Sulaksmi.

Begitulah kisah perjalanan kami sampai di Hotel Wirton di Bukit Dago dan aku tak pasti langkah ini menuju tangga untuk naik dan menuju kamarku yang ada di lantai 4. Pagi itu sekitar jam 8 malam aku telah berkirim sms ke Nova linda yang kutahu sedang menunggu jemputan Abah Hudan Hidayat yang sedang menemani Khadijah Abd Rahman penyair Malaysia ini sudah tiba dan menyelesaikan tugasnya di Ibnu Khuldun bersama abah Hudan Hidayat di sana. Lama aku menunggu kedatangan rombongan abah Hudan dan Khat serta Nova yang terus terjebak macet.

Aku beranjak cepat sekali menuju kamar 415 ingin rasanya aku ingin memeluk sosok yang selama ini begitu sangat ingin kutemui dan lalu kamipun berkumpul aku mencium tangan abah Hudan dan kami pun tergelak ramai sekali pertemuan pertama itu karena kami awalnya memang tak pernah bertemu dan bertatap wajah secara langsung kecuali di dunia maya dengan berjenis kelamin FB. Khat pada waktu itu kulihat masih sedikit keringatan, dua tas besar berisi buku-buku begitupun wajah abah Hudan dan Nova yang kayaknya sangat lelah akibat mengarungi lautan macet dari Jakarta ke Bandung.

Yah, begitulah Negeri ini selalu punya cerita soal kendaraan macet, banjir dan banyak lagi yang lainnya. Ah, aku tak mau masuk kesana dulu, karena aku ingin menulis kenangan kebersamaan kami yang bertemu di Bandung. Tepatnya di tanah kelahiran seorang Relawan Kampoeng Jerami yaitu Lia Amalia Sulaksmi dan sekali lagi wajah perempuan ini sangat bersih dan rapi serta menunjukkan ikhlasnya. Dia menyambut kami. Cuma mungkin aku yang tak mau dijemput olehnya sebab aku tak ingin mengganggu aktivitasnya yang mengajar dan menyiapkan Pelatihan Pengenalan Sastra di SMPN 35 Bandung tempat dia mengajar.

Sebelumnya aku kembali terkenang bagaimana kami akhirnya bisa sepakat untuk mengadakan Pelatihan di Bandung. Larena situasi dan kondisi yang tak begitu memungkinkan untuk ditempatkan di Madura maka alternatif lainnya adalah Bandung yang secara lalu lintas transportasi akan jauh lebih irit dari jakarta ke bandung dibanding harus Jakarta – Madura. Kami pun terus bercanda dan bercerita hal-hal kecil. Kembali aku menyisir wajah-wajah orang yang begitu sangat dekat dan akrab di dunia maya ini.  Yah! Memang dunia maya telah mempertemukan kami. Menulis di dunia maya, dan akhirnya bertemu di dunia nyata.

Waktu begitu cepat berlanjut begitu cepat sekali, Abah Hudan sibuk membagikan buku-buku sastra pada kami masing-masing, aku dapat bagiannya, Nova begitupun, Lia juga dapat sesuai kemampuan berbahasa kami. Kata abah yang aku ingat,”ini buku aku bagikan karena melihat watak bahasa kalian dan kalian ini sebenarnya tak sama, watak bahasa kalian berbeda. Nah, buku-buku yang aku bagikan aku pikir akan membantu kalian untuk menuju rimbunan bahasa kalian.” Kata Abah Hudan yang dengan tatapan sayu mata yang bersembunyi dibalik kaca mata yang menggunakan rantai itu. Abah ini sangat luar biasa perhatiannya pada kami.

Akhirnya obrolan-obrolan itu seperti anak panah yang lepas begitu saja, kadang tertawa, kadang saling diam dan lalu riuh kembali. “Khat jaket dan dompetku di mana ya?” Dan semua mata tertuju pada Abah dan Khat. Kami semua segera bergerak mencari dompet dah jaket Abah Hudan, mulai dari bongkar semua isi tas, mulai dari mengingat kemungkinannya jatuh di mana? Di tinggal di mana? Ah, dan Lia mengambil inisiatif menelpon suaminya. “Aak, tolong dicek apa di mobil ada jaket? Soalnya itu jagetnya Gu.” ( sapaan Lia ke Abah Hudan dengan sebutan Gu: Guru). Di seberang suara kak Odi seperti menjawab. “Gak ada sayang, gak ada jaket tertinggal di mobil ini.” Kata Kak Odi ke Lia.

Lia pun meminta suaminya berputar arah dan kembali lagi ke hotel untuk menyusul ke tempat mobil antar jemput di Cipaganti. Aku dan Nova Linda ikut dalam mobil itu, aku melihat Kak Odi juga konsentrasi dan agak mempercepat laju mobil berwarna putih meski aku tak ingat apakah mobil itu Avanza atau Xenia. Yah bodo ah, kamipun saling diam seakan-akan kami sibuk dengan pikiran masing-masing, Cuma sekali-kali Nova menjelaskan kemungkinan-kemungkinan jaket itu tertinggal sedang dipikiranku bertanya. “Gimana kalau hilang?” Bukan masalah barangnya tapi ini jaket dan dompet yang berisi surat-surat pentingnya Abah Hudan. Ah jadi malu juga akhirnya kalau ini tidak ditemukan, merasa gagal menjaga barang-barang dari orang yang sangat kami kagumi.

Sesampai di Cipaganti aku dan kak Odi suaminya Lia ini sigap menuju tempat satpam dan menanyakan perihal dompet dan jaket yang tertinggal di dalam mobil. Setelah berapa menit kami menunggu ada konfirmasi langsung dari para pekerja di Cipaganti. Kabar baik pertama jaket dan dompet itu ada. Lalu Abah Hudan menelpon. “Isinya itu adalah macam-macam loh Fen!” Sambil menge-list jumlah isinya dan barang berharga di dalam dompet itu. “Iya abah.” Kataku. “Mohon Abah menunggu kabar dari kami selanjutnya, pihak pekerjanya masih menge-ceknya sekarang.” Begitulah aku jawab telpon dari Abah yang terus meminta kami tenang dan tetap sabar.

Aku terbayang kembali betapa tangis khat mengalir ketika dompet dan jaket itu tak ada, khat begitu gelisah. “Fen, padahal biasanya aku yang pegang itu dompet Fen. Kenapa aku sekarang jadi lupa? Kenapa aku begitu lengah.” Dan penyesalan khat makin jadi, aku hanya bisa melihatnya, tapi tanpa sadar aku tepuk bahunya Khat.

“Sudahlah Khat! Aabar dan tenangkan dirimu. Mari kita cari bersama.” Dan kembali khat cuma bisa menggigit bibirnya dan mengusap air matanya. “Tuh kan Fen aku jadi cengeng. Maaf ya Fen?.”  “Tak apa-apa khat, santai saja.” Kataku pada Khat.

“Mas Fen, kita makan dulu yuk! Atau sekadarnya minum teh hanget dan minum kopi di sini?” Sapa kak Odie membuyarkan ingatanku pada Khat dan Abah Hudan yang  sedang menunggu kedatangan kami. “Oh iya kak mari silahkan.” Akhirnya, aku, Nova dan di susul dari depan kak odi lebih dulu turun dari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya dan mereka bergandengan ke tempat yang dipilih untuk sekadar minum. Akhirnya kami lebur dalam obrolan menikmati makanan sedang aku hanya memesan teh jeruk bukan karena tak lapar tapi aku selalu merasakan sakit di tenggorokanku ketika ingin menelan makanan. Obrolan kami begitu hangat soal Bandung sampai kami kembali menyusuri ruas jalan menuju Dago dan arah hotel yang kami tempati.

Kami pun akhirnya berkumpul dan menyerahkan dompet dan jaket itu ke Abah Hudan Hidayat, beliaupun mengecek isinya dan semua lengkap lalu kata Abah. “kalian memberikan ucapan tanda terima kasih kepada petugas yang menyimpankan jaket dan dompet ini kan?” Lia menjawab sudah gu beserta sedikit uang. Ah! Sedikit sekali kalian memberikannya. Kata Abah Hudan sambil tersenyum dan kami semua tersenyum setelah semua kegelisahan ini terbayar tunai dengan jaket dan dompet ada di tangan Abah Hudan.

Aku melirik wajah Khat yang kembali berbinar dan penuh cahaya. Kamarku yang dijadikan tempat berkumpul dan markas untuk membicarakan soal hari pertama pelatihan Pengenalan sastra di SMPN 35 Bandung. Mulailah Lia mempresentasikan semua situasi di lapangan. Dan aku kembali tersudut pada alamku sendiri. Aku teringat wajah kecil, wajah manis yang selalu riang memanggilku mas tulang.”Ah sedang apa kau di sana sayang?” Kurasakan dan kusapa wajah Umirah Ramata yang tiba-tiba melintas di kamar 414 yang aku tempati. Sosok lugu ini sangat besar kontribusinya pada kami. “Umirah aku rindu kamu. Aku ingin kamu berkumpul di malam ini, bersama kami.” Jerit bathinku di sela diskusi Lia dan Abah Hudan yang entah sampai ke mana? Ku lihat tatap Lia yang begitu riang, wajah Nova yang sayu, dan mata Khat yang kembali cerah serta liukan tangan Abah Hudan dalam menjelaskan persiapan kelas estetik untuk besok. Buru-buru aku mengembalikan arah alam sadarku.

Perlahan waktu telah menjadi kabur dan kami semua memang tak sadar telah menjauhkan dan  mengasingkan tubuh waktu. “Sekarang coba kita baca puisi dan latihan bersama.” Kata Abah Hudan membagikan tugas. Nova baca Gerbang senja, dan Khat memilih puisi yang judulnya sangat panjang( itu judulnya apa ya Khat?), Lia Membaca semusim. Dan secara bergiliran kami mencoba. Kulihat Nova masih malu-malu membacakan puisi gerbang senjanya. Maka aku ambil iniasiatif untuk lebih gila. Aku membacakan puisi Kerawang-Bekasi, puisi yang termasuk terbaik dari penyair Indonesia yang sangat terkenal : Chairil Anwar. “Aih Fen, kamu belum dapat” Kata Abah Hudan. Maka mulailah suasana itu makin cair dan tak lagi malu-malu.

Bibirku bergumam, untuk memasukkan roh Kerawang-Bekasi aku butuh ritual kecil, yaitu lagu gugur bunga,…dan aku mulai tak sadar, tapi entah apa yang terjadi tubuh bergetar dan aku tak tahan menahan diri dulu, aku biarkan pembacaan puisi itu berhenti, selanjutnya Lia membaca puisi semusimnya. Aku diam-diam salut pada cara baca puisinya. “woow.” Kataku. Tapi aku diam-diam saja, aku diam tak mengatakan. Lia hebat cara baca puisimu, nova pun menyusulnya dengan baik, Khat dengan renyah memberi warna. “Aih…Umirah yang aku tahu memiliki ciri khas pembacaan puisi, sayang kau tak di sini Umirah.” Bathinku kembali mengenang umirah. Malam pun sudah jam 3 dini hari. Malam sudah bergelantungan, dan kami merapikan diri sampai pagi, karena kebetulan agenda pelatihan memang siang.

Pagi-pagi aku segera melihat laptopku. Kubaca inbok Lia. “Mas Fen, pliiss bantu aku! materi-materi belum selesai.” Dan aku melayang ke dekat wajah Lia ini. Dia kayaknya lagi kewalahan, maka dengan segera aku melakukan perintah dari Lia, sampai akhirnya semua pekerjaan sudah selesai aku kirim pesan. “Teh lia, ini file materi sudah siap dicopy dan diperbanyak.” Kataku.  Jawabnya Lia. “Mas Fen makasih ya? Untung saja ada kamu yang bisa bantu hiks,…hehe.” Aku tersenyum, “Gak lah ini kan tanggung jawabku teh. Eh teh, suaminya cakep dan baik sekali.” Kataku untuk menghilangkan fokus kerisauan Lia ini.

Obrolanku dengan Lia, aku biarkan dan aku tinggalkan begitu saja. Sekali lagi, ini memang penyakitku yang paling parah ketika obrolan sudah tak penting aku biasanya dengan seenak hati meninggalkan begitu saja, dan ketika itu aku jadi ingat sewaktu sarapan dengan Abah Hudan. “Ya allah kataku, semoga Lia tak tersinggung.” Buru-buru aku ke kamar lagi, dan benar sekali kata di dalam inbok itu. “Hellloooooww…dodoooollll nyebelin banget kamu neh! Selalu tak mau menerima curhat-curhat yang tak penting.” Kata Lia. Aku jawab meski aku tahu dia sudah tak di ujung inbok ini. “Kalau kamu tahu itu tak penting kenapa mau diobrolkan.” Kataku dengan tambahan, hehe.

Jemputan gratis dari kak Odi suaminya teh Lia datang. Kami berempat masuk ke mobil itu. Di dadaku berdebar-debar, kebiasaanku memang kadang gila, kalau menghadapi acara atau ada kegiatan aku jarang bisa tidur, seperti hari itu, aku tak terlelap sebentarpun. Dan mobil itu berhenti, aku melihat tulisan SMPN 35 BANDUNG, kami diterima Wakaseknya.

Abah Hudan melakukan percakapan serius dengan pihak sekolah di dampingin aku, Nova dan Khat sedang di depan kami sederetan guru-guru juga mendampingi, panjang kami melakukan percakapan, dan abah hudan menjelaskan semua tujuan, apa Itu Jurnal Sastratuhan Hudan dan Kampoeng Jerami. Akhirnya kamipun menuju kelas, melakukan cek sound, melihat senyum manis para peserta, dan mulailah, hatiku kembali berdegup kencang. “Mau jadi apa forum ini nanti ya? Mampu enggak kawan-kawan memberi semangat untuk mereka mencintai sastra?”

Aku melihat kegelisahan di mata Lia, orang ini memang sangat cuek, tapi aku tahu dia mulai kebingungan dan aku mendekatinya. “Teh, ada apa? Apa semua baik-baik?” Kataku dan jawabnya, “Aku bingung mas, mau mulai dari mana? Mau dibagaimanakan ini?” Kata Lia. Kujawab dengan santai. Ah! Teteh mah bisa saja, yuk tak usah banyak berfikir, kita mulai, kita akan menerima apapun dampak dan hasilnya yang penting kita sudah berupaya keras untuk sampai ke sini dan melakukan yang terbaik.”

Nova mengawali dengan suara sendu, tapi entah apa yang terjadi di dalam, aku tak mendengar suara Nova dari luar kelas. Sound yang sedikit bermasalah membuatku juga agak sedikit pening, sedang radang tenggorokan belum juga sembuh, lalu Khat kudengar baca puisinya, dan suara Khat memang lebih tinggi dari Nova, Nova mendayu-dayu dan merdu sedang Khat dengan kepolosannya, lugu dan sangat jujur, Khat memukau para peserta dengan aksen Malaysianya, jadi membuatku serasa ada di malaysia. Khat aku kenal memang baru saja, dia menurut sebagian teman-temanku di malaysia adalah murid kesayangan Dato Kemala, begitupun Profesor Ariffin Mohd. Yah anak ini kataku, pasti nanti akan jadi penyair, meski sebenarnya dia selalu menolak bila dikatakan penyair.

Semusimnya lia pun kudengar di tengah kelembutan suaranya ia berteriak, ia menaikkan intonasinya dan aku lamat-lamat mendengarnya dari luar kelas,… dan sampailah pada situasi yang menuntunku untuk membacakan puisi Kerawang-Bekasi. Di dalam kelas, sudah senyap, lagu gugur bunga memenuhi ruangan. “Ah, gimana neh kataku dalam hati, aku mendengar kata Abah Hudan. Fen! Sukses dan tidaknya kelas estetik itu sekarang di tanganmu.” Mandat Abah ini juga amat berat kataku. Abah menepuk bahuku. “Berangkatlah anak muda, tunjukan kemampuanmu, buat abah senang.” Kata Abah Hudan. “Aku menaruh kepercayaan dan harapan yang tinggi padamu.”

Perlahan aku membuka pintu ruang kelas itu dan pada waktu itu kesadaranku masih sangat penuh. Yang aku ingat berjalan memegang dua alat, berupa bendera merah putih dan satu kertas bertuliskan puisi kerawang-bekasi. Ah! semuanya berjalan amat cepat sekali, aku sudah tak paham gerak tubuhku, aku sudah tak paham apa aku sudah tepat membaca puisi agung ini, sekeliligku aku melihat bunga-bunga mekar, tumbuh, kering, terkulai dan mati, begitu seterusnya, anak-anak di depanku seperti generasi baru, seperti bunga itu, di siram dan perlu dirawat, perlu sekali kasih sayang, perlu diberi minuman vitamin, untuk bisa menghargai pahlawannya, dan aku tiba-tiba tak sadar bendera itu jadi naik turun, ada wajah para pejuang menahan sakitnya, peluru menembus dada, seorang kekasih kehilangan kekasihnya, seorang ibu rela melepas anaknya ke medan laga, dan kepiluan itu makin panjang, sepanjang Kerawang dan Bekasi. Pun tiba-tiba tubuhku digeret ke kursi, aku lirik di sampingku ada Abah Hudan Hidayat. Di depanku Khat menahan tangis, wajah nova, dan seorang guru yang mengambilkan air minum. Abah Hudanlah tiba-tiba memelukku dan mengambil jempolku yang luka dan mengecupnya. Aku terharu tapi aku tetap tak bisa bergerak lemas sekali kata tubuhku. Dan acarapun berjalan sampai hari pertama ditutup dengan pembagian dinamika kelompok.

Hari Kedua Dinamika Kelompok :

Pagi itu aku dan Abah Hudan menikmati sarapan sambil ngobrol dan sekali-kali tersenyum banyak sekali hal-hal yang aku ambil dalam obrolannya yang mengarahkan diriku untuk lebih matang lagi dalam berproses dan matang dalam menulis. Akhirnya semua bergerak ke lokasi sekolah itu kembali. Aku memegang kamera Khat. Otak dan pikiranku kembali tak tenang saat di sms kubaca. “Anakmu mulai tadi malam panas, dia tak mau makan.” Aku mencoba menelpon asal nomor itu. “Tenanglah dulu, aku yakin Surga akan baik-baik saja, kecup sayang dariku.” Kataku menenangkannya. “Iya katanya, kamu jaga diri baik-baik di sana ya?” Iya kataku.

Sampai akhirnya aku tertinggal rombongan. “Ku tanya siapa ya? Kayaknya lewat sini, kayaknya kemarin begitu, aku ulang lagi, dalam hatiku, aku tersesat memalukan kataku, dan ini lagi soal diriku, yang selalu tak peduli arah dan jam dan waktu begitupun hari. Nov, aku tersesat di bawah, bisa bantu jemput aku?” Kataku menelpon Nova. “Iya Fen bentar tunggu ya?” Jawab Nova. Aku pura-pura memotret sekelilingku dan lalu muncul wajah Lia. Kok bukan nova, Lia dengan wajah cuek dan tanpa basa basi. “Yuk,” kata Lia. “Ayuk.” Kataku. Kami diam. Aku asik dengan kameranya Khat. aku ingin kamera ini kataku tapi gak deh mahal, lalu Lia pun lewat di depanku begitu saja. Ia aku juga tak ambil pusing di situasi seperti ini dia pasti fokus ke acara dan sudah hari kedua ini.

Entah hari kedua tiba-tiba jadi seakan hari yang redup, tapi aku mencoba menepisnya. “Ah ini karena feelku sedang kacau dan terbelah ke arah obrolan anakku tadi.” Kataku. Aku ambil napas. “Ayo Kataku, jangan kecewakan orang banyak, aku menyemangati diriku sendiri dan mencoba menetralisir keadaan dan arus bawah sadarku.” Aku dekati Lia, “gimana?” Kata Lia. “Kau ambil forum ini!” “Oke siap?” Dan aku mencoba mengambil perhatian peserta dan lalu hening dan senyap kembali. Namun Abah Hudan mengambil cara yang lebih bijak memecah semua kebuntuan dan beliau memang sudah sangat paham untuk menguasai forum. Pembagian kelompok mengalir, aku memilih berjalan bersama peserta sambil aku menelpon istriku diperjalanan. “Udah baik kah?” Kataku. Aku hanya berdoa semoga anakku surga baik-baik saja.

Dinamika kelompok itu terbagi jadi dua kelompok. Aku memandu satu kelompok dan tempatnya sekitar 1,5 kilo di Taman Budaya Bandung. Satu mobil mengajakku naik, terlihat di dalamnya Abah Hudan, guru senior Lia dari MGMPnya, Nova, Khat di dalamnya. Tapi aku menolak karena aku juga ingin terus mengontrol keadaan di Madura. Selang berapa menit aku melihat Lia dibonceng oleh seorang guru laki-laki, dia hanya tersenyum, dan aku juga tersenyum, cueknya memang kambuh selalu dan kadang aku merasa sedikit kecewa juga tapi tidak kataku, sebab bebannya dia udah berat mulai mengawal komunikasi sampai semua persiapan dan aku tak boleh menambah bebannya jadi aku memposisikan diriku sebagai orang yang dewasa dan mencoba mengisi ruang kosong yang tak tersentuh. Karena inilah kekuatan TIM itu saling mengerti dan bergerak atas ruang intuisi yang saling menunjang ke arah yang lebih dinamis.

Aku memandu dan kawan-kawan pun begitu, terlihat wajah abah Hudan yang murung akibat berapa hari ini tak bisa menulis dengan fasilitas wifi yang sangat jelek, beliau kehilangan energinya untuk menulis. Aku melihat Nova, aku melihat Khat sedang asyik dengan kelompok dampingannya. Sedang aku sendirian, loh kok aku jadi bertugas sendirian yah kataku dalam hati. Tapi aku sekali lagi bukan tipe orang yang mudah memainkan rasaku sendiri. Akhirnya aku mainkan forum itu dengan sedikit menyentuh keriangan para penulis. Dan akhirnya dua jam kami lalui, aku turun kembali ke tempat acara sesampai di sana aku membacakan puisi Umirah, adik yang sangat kusayang ini. Dia pasti akan senang kalau aku bacakan Pandora dan hujannya. “Aihh…Nova apa tadi pas aku baca puisinya umirah kamu ambil dokumentasinya?” Tanyaku pada Nova. “Aduh Fen, kamu tak ngasih tahu seh!” Kata Nova. Terbayang wajah Umirah yang bersungut dan itu terwakilkan dari raut wajahku tapi aku juga buang wajahku dari tatapan Nova, aku juga tak ingin Nova tahu kalau aku kecewa.

Waktu memang amatlah cepat. Sampai tiba kami pada penghujung acara. Aku mulai sedikit kelelahan, benturan di kepalaku masih terasa perih, satu malam aku kunci pintu, agar tak seorangpun tahu bahwa kepalaku terasa amat dan ingin pecah. Aku menangis. “Nov jangan lama-lama di jalan ya?” Tapi ah, aku simpan sendiri perihnya, aku diam saja di kamarku. Penutupan acara, Foto-foto dan tibalah kita disalamin oleh para guru dan peserta, aneka kesan pesan mereka. “Adakan lagi acara seperti ini ya mas, ya kak, ya pak?” Kata mereka saling tersenyum. Hatiku bersyukur. “Alhamdulillah.” Kataku. Bersyukur ini sukses, tapi aku pun tak bisa mengambil air minum dan melakukan tos atas kesuksesan ini.

Suatu pagi di hari terakhir itu, semua baju, buku dan semua barang-barang telah terkemas ke ransel. Abah Hudan sudah siap, Khat dan Nova sudah rapi, tinggal aku yang belum merapikan sedikit barang di kamarku, kamipun turun ke loby menikmati sarapan sambil menunggu Lia dan kak Odi suaminya. Selang berapa menit turunlah dua wajah berseri, laki-laki yang kulihat sangat cool dan perempuan yang sangat manis dengan kacamata minusnya turun dari mobil berwarna putih. “eh tuh lia dan kak odi.”

Sedang aku bergegas ke recepsionis untuk menyelesaikan pembayaran kamar hotel atas permintaan Khat dan Abah Hudan serta teh Lia semua keuangan terbayar semuanya. Maka kamipun berangkat ke Cipaganti tempat Abah Hudan dan Khat akan kembali ke Jakarta. Inilah kali akhir kataku. “Apa kita akan bersama lagi?” Hatiku perih sakit, tapi kusembunyikan sendiri, di mobil kak Odi terdengar lagu dangdut mengalun, aku yang duduk di kursi paling belakang menggoda kak Odi. “Eh kak kok tumben lagunya dandutan ini?” Kak odi menjawab dengan renyah. “Iya mas biar sedikit riang hari ini.” Katanya. Kamipun tersenyum, dan kulihat tangan kiri kak Odi menyentuh dagu teh Lia. Mungkin kak Odi melihat kesedihan di mata istrinya, sedih itu karena harus berpisah dengan Nova, Abah, dan Khat. Sedang aku tak mau mendramatisir perjalanan itu, aku goda kawan-kawan.  “ini kebun binatang di mana aku jadi orang terganteng di dalamnya. “ maka nova menyahut. “Iya Fen itu tempatnya. Sambil menunjuk kebun binatang yang kami lalui lalu kak Odi menimpali. “Apa mas Fendi mau menjenguk saudaranya.” Dan kamipun tersenyum.

Sampai juga akhirnya. Kami semua turun. Aku lihat Khat mulai menangis, dia memeluk Nova lama sekali. Dia memeluk lia begitupun lama sekali. Aku tak mau ambil pusing sebab di sakuku kok aku tak punya rokok ya? Aku lari ke asongan. Lalu aku nyalakan rokokku dan kembali mendekat pada suasana yang mulai tumpah dengan kesedihan. “Titip dan jaga Lia ya dengan baik ya?” Kata Khat pada suaminya dan lalu bagianku mencium tangan dan memeluk Abah Hudan. Abah tetap tenang dan cool dan aku memperlihatkan tinjuku pada Khat sebagai saling adu kekuatan dan tak boleh sedih aku dengar katanya, “Fen, Fen, dan kugenggam tangannya dengan erat, sekali lagi aku paling tidak bisa dibawa ke suasana semacam ini, khat kataku. “Kita adalah saudara dan kita adalah orang-orang yang kuat, kuatlah jangan menangis kataku.” tapi itu tak lepas dari bibirku dia cuma muncul di dalam hatiku.

Begitupun selanjutnya, Khat dan Abah Hudan ditinggal di tempat itu mereka akan dibawa oleh angkutan yang akan membawanya ke Jakarta lagi. Sedang aku, Nova, Lia dan kak Odi ke tempat yang lain mengantar Nova. Nova sudah banjir air mata, sedang lia tetap tanpa kata dan air mata hanya diam. Aku bersyukur ada kak Odi yang selalu bisa menetralisir keadaan sehingga Nova sampai juga. Dan aku tinggalkan mereka bertiga menyingkir ke tempat area merokok. Dari jauh aku melihat Nova dan Lia saling berpelukan, saling meneteskan air mata. Dari jauh aku berkata dengan hatiku. “Tenanglah kawan-kawan, sabarlah dan jangan menyerah ini akan indah pada waktunya.” Kataku dan kubuang kembali rasa sedihku sampai akhirnya Nova kita lepas menuju Bandara.

Lia membuka obrolan yang paling mengejutkan setelah berapa hari ini jarang sekali dia mau mengobrol denganku. “Aak, yang laki-laki ini mau dibuang kemana?” Kata Lia pada suaminya. Dan laki-laki yang dimaksud Lia adalah aku. Kak Odi menimpali. “kalau yang laki-laki lepas saja di stasiun dia akan senang melihat betis-betis mulus.” Kami pun tertawa sampai akhirnya Stasiun Kota Bandung menyambut kami. Aku bergegas ke loket tiket. “Semoga dapat kataku.” Kak Odi membantu mengambilkan kartu antri. “Yang ke Surabaya ada gak mba?” Tanyaku. “Ada mas, tapi yang bisnis, berapa?” Kataku. “260 ribu mas, gapapa aku ambil itu. ” Kataku. Tiket sudah di tanganku. Terbayang aku pulang kembali ke Madura di mana pekerjaanku juga banyak kutinggalkan.

Akupun berpamitan dan memeluk tubuh kak Odi. Tubuh yang kurasakan kakak sendiri. Kami bersalaman. “Datanglah kembali mas, aku akan ajak mas Fendi jalan-  jalan, tidur di rumah.” Kata kak Odi padaku. Aku jadi terkenang saat kami tidur berdua di kamarku. Terima kasih kak Odi. “mohon maaf merepotkan.” Kataku. Dan kata kak odi. “tak apa-apa mas, aku bahagia karena punya saudara baru.”

Lia berdiri di sampingku. Aku tak bisa berkata banyak ke Lia. Dia menyalami tanganku, kata Lia. “Mbahhh…maafin kalau ada salah kata dan perbuatan, salam untuk anak dan istrimu, ada bingkisan kecil untuk Surga dan Iman katanya.” Aku pun berkata pada Lia. “Teh jangan menyerah, tetap semangat, kami butuh teteh tetap bersama kami.” Tanpa basa-basi lagi aku menoleh dan meninggalkan mereka sampai mobil putih itu lenyap dari tempat semula.

Dan tinggallah aku sendirian di Stasiun ini dengan segala dan segenap kehampaan memikul beban perjuangan inilah kesaksianku terhadap proses dan kerja sama kami, JSTH/KJ dan SMPN 35 Bandung. Aku sayang dan hormat pada semua kenangan ini. Salam.

Kenang-kenanglah, 131113

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here