Peluncuran Buku Tanah di Perpusda Mojokerto

Sebuah kuasa lain datang ketika saya sedang, membaca antologi puisi Tanah Silam, karya Fendi Kachonk. Ke dalam kepala saya, kuasa yang tidak bisa saya jelaskan itu menyusupkan sebuah paragrap yang berasal dari ceramah Jorge Luis Borges di Harvard University berjudul Kredo Seorang Penyair. Berikut saya satin susupan tersebut:

Saya kira salah satu dosa sastra modern adalah bahwa ia terlalu sadar-­diri. Misalkan, saya menganggap sastra Prancis merupakan salah satu dari sastra besar di dunia (saya kira tak ada seorang pun yang akan membantahnya). Namun saya merasa bahwa para penulis Prancis pada umumnya terlalu sadar-diri. Penulis Prancis mulai dengan mendefinisikan dirinya sebelum dia cukup mengetahui apa yang akan dia tulis. Dia berkata: Apa yang seharusnya ditulis oleh (misalnya) seorang Katolik yang lahir di daerah tertentu, dan mejadi seorang sosialis? Atau: Bagaimana kita mesti menulis setelah Perang Dunia Pertama? Saya menduga banyak sekali orang di dunia ini yang bergulat dengan persoalan-persoalan yang menyesatkan itu.

Saya tidak tahu apakah saya setuju atau tidak dengan apa yang disampaikan Jorge Luis Borges tersebut. Saya tidak tahu apa buruknya orang yang menulis dengan terlebih dahulu membuat dirinya sadar-diri sehingga layak disebut sebagai dosa. Tapi saya sadar satu hal, bahwa susupan dari kuasa lain itu tidak tiba-tiba ada tanpa tujuan tertentu. Dan saya memerlukan waktu hingga tiga puluh detik untuk menyadari bahwa kutipan tersebut bisa saya gunakan untuk memasuki puisi-puisi yang terhimpun dalam antologi Tanah Silam itu. Tentu saja, sebagai sebuah cara atau pintu masuk, kutipan tersebut adalah satu dari banyak cara lainnya, satu pintu dari bejibun pintu lainnya. Dan saya yakin, kita tidak akan berdosa seandainya tidak menggunakan pintu yang ini dan memilih pintu yang lain. Tambahan lagi sifat karya sastra, yang multi tafsir menjadikan hal ini teramat legal. Ingat pula apa yang pernah diucapkan Sapardi Djoko Damono bahwa karya yang baik mengundang tafsir yang banyak. Saya lupa seperti apa persisnya, tapi saya rasa begitulah kira-kira.

Ketika saya membaca judul kumpulan ini, saya mengira di dalamnya saya akan menyaksikan panorama Madura (pulau di mana penyair kita ini lahir dan tumbuh) masa lampau, lepas dari definisi sejauh apa “Lampau” itu sendiri. Dalam benak saya, terbayang puisi-puisi dari beberapa penyair Madura yang pernah saya baca karyanya, semisal Shohifur Ridho atau Mahwi Air Tawar atau Achmad Mukhlis Amrin, atau Khalil Tirta Anggara yang teramat kental warna Maduranya. Tapi saya keliru. Memang ada sejumlah puisi yang berbicara tentang pulau yang selain terkenal dengan garam dan celuritnya juga lazim diketahui sebagai penghasil sastrawan tersebut, namun jumlahnya begitu kecil, nyaris tenggelam di antara lautan puisi lain yang sama sekali tidak berhubungan dengan Madura.

Dewasa ini, sastra Indonesia dibanjiri dengan karya-karya yang mengusung tema-tema kelokalan. Saya menduga hal tersebut berkaitan erat dengan Bahasa Indonesia sebagai material penciptaan karya. Bahasa Indonesia, bagi banyak penulis, adalah bahasa asing yang dengan susah payah harus mereka terima sebagai konsekuensi karena kita telah menyatakan diri sebagai satu bangsa yang memerlukan satu bahasa persatuan. Dan itu bukan perkara mudah lantaran dalam kesehariannya, mereka berbicara dengan bahasa ibu mereka. Mereka yang berlatar Jawa berbicara dengan bahasa Jawa, mereka yang berlatar Sunda bicara dengan bahasa Sunda, dan mereka yang berlatar Madura juga berbicara dengan bahasa Madura. Pada momen itulah, Bahasa Indonesia menjelmakan dirinya menjadi penjajah dan para penulis mesti tunduk kepadanya. Tapi tunduk bukan berarti tidak memiliki keinginan untuk melawan. Dalam keadaan terpepet, para sastrawan itu mengembangkan gaya perlawanan terhadap hegemoni Bahasa Indonesia, dan melalui nilai-nilai kelokalan, mereka mendapatkan celahnya.

Karena itu, paling tidak berdasarkan pengalaman saya pribadi yang kebetulan juga menulis sedikit puisi dan prosa, sebelum menulis, para sastrawan mutakhir ini merumuskan dirinya sendiri, menjadikan dirinya sadar-diri dalam terminologi Borges. Sebagai orang Mojokerto, seperti apa saya harus menulis. Sebagai orang Padang, bagaimana saya mesti menulis. Sebagai orang Madura, bagaimana saya mesti menulis.

Dalam kondisi semacam ini, Fendi Kachonk adalah sebuah anomali. Saya tidak tahu apakah dia membaca Borges atau tidak. Tapi apa yang telah dilakukannya dalam buku ini adalah (bagi saya) fase praktis dari apa yang didengungkan Borges puluhan tahun sebelum hari ini. Sebagian besar puisinya adalah puisi-puisi yang tidak mewakili “sebuah” Madura. Dia melepaskan diri dari identitas Maduranya, dia menjadi tidak sadar-diri. Artinya, puisi-puisi itu bisa juga ditulis orang yang berlatar suku bangsa-suku bangsa lain di seluruh dunia. Dia mengamini Borges. Dan di masa yang seperti sekarang ini, hal ini sangatlah menarik. Sebuah tawaran yang menantang untuk dibicarakan dan diteliti.

Upaya Fendi untuk menjauh dari sadar-diri ala Borges ini memang tidak mudah. Meski sedikit, ia juga menulis puisi-puisi tentang Madura. Dari yang sedikit itu, puisi berjudul Menatap Jembatan bagi saya adalah puisi Madura yang paling berhasil, Itu bila kita melihatnya dari kacamata yang lain.

Dalam konteks menghilangkan sadar-diri, Fendi bergerak semakin jauh dengan mengabaikan dirinya sebagai penyair. Seorang penyair adalah seorang yang individual. Ia bekerja sendiri. Bahkan sekali pun ia terlibat dalam sebuah komunitas, proses kreatifnya adalah miliknya sendiri. Dalam beberapa puisinya, Fendy malah menolak ke-individuan seorang penyair. Beberapa kata ganti jamak semisal “kita” atau “kami” seperti memberitahu kepada kita bahwa Fendi sebagai individu telah tidak ada. Ia ada bersama beberapa orang lain, dan ia menyuarakan apa yang orang-orang lain itu ingin suarakan. Puncaknya terdapat pada puisi berjudul Layang-layang Kertas. Pada paragrap terakhirnya, ia menulis: puluhan orang berbanjar menyiapkan foto kenangannya/ untuk dipajang di dinding sebagai sisa perjalanan. Aku/ juga. Sebelum nanti taliku putus, melayang lalu hilang.

Ia dengan Santai dan terang-terangan memaklumatkan dirinya sebagai bagian dari puluhan orang yang berjajar. Dia adalah apa yang pernah disebut Afrizal Malna dalam salah satu puisinya sebagai Masyarakat Rosa. Apa yang menyebabkannya menempuh pilihan semacam itu? Media social? Atau apa?

Puisi lain yang tak mungkin kita lewatkan dalam pembicaraan perihal Fendi dan Borges adalah puisi berjudul Perempuan Pasar Tradisional. Ia bercerita tentang pasar Settoan sembari mengilangkan sadar-diri-nya sebagai orang Madura. Maka jadinya. kata ganti “settoan” hanya muncul sekali dan kemudian dilindas dengan kata ganti “pasar tradisional”. Madura dalam puisi itu ada untuk sekadar menjadi tidak­ ada. Madura muncul untuk digantikan kosmis yang jauh lebih luas.

Jaman semakin bergerak ke depan, sesuai sunnahnya. Pada akhirnya, mungkin, kita yang berbahasa ibu selain Bahasa Indonesia akan menerima bahasa asing itu sebagai bahasa yang tidak menjajah. Dan kita akan berbicara seperti bangsa Indonesia berbicara, dan bukan sebagai orang daerah yang berbicara dengan bahasa Indonesia. Dari puisi-puisi Fendi Kachonk, barang kali kita bisa mendapat wacana untuk memulainya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here