FESTIVAL PUISI BANGKALAN

0
476

Bangkalan, 19-20 Juli 2019, Festival Puisi Bangkalan 4 atau disingkat FPB 4, baru saja usai. Agenda tahunan Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan tersebut sudah tak asing lagi sebagai bagian penting dari proses kreativitas menulis. Dengan target menemukan kembali bibit-bibit anak muda yang suka menulis, khususnya puisi. Di Bangkalan sendiri, tempat terselenggaranya acara tersebut, oleh pimpinan komunitas, yakni M. Helmy Prasetya, diakui, memang secara kemasan acara tidak dibuat muluk-muluk seperti saat pelaksanaan FPB edisi 2. Artinya, penyelenggaraan tidak semeriah seperti edisi FPB 2 yang skupnya bersifat Nusantara.

Namun yang disyukuri adalah target teman-teman penggagas sudah terpenuhi. Ada 2 bagian yang menjadi dasar FPB ini diadakan. Yaitu yang pertama mentradisikan generasi penulis itu sendiri, sedangkan yang kedua adalah membuka peran pemerintah untuk turut serta membantu aktivitas seni di Bangkalan. “Karena bidang kami di sastra, maka melalui puisi,” demikian kata Dosen STKIP PGRI Bangkalan itu. Pada acara tersebut didatangkan 3 pemateri luar, antara lain Tia Setiadi (Yogyakarta), Mashuri (Sidoarjo), dan Dadang Ari Murtono (Surabaya/Mojokerto).

Ketiga pemateri diminta untuk menyampaikan materi-materi yang terkait dengan tema acara: “Sèrkèsèran Obi Manès, Jâng-Lajângan Dauna Nangka. Kèrpèkkèran Sambi Nolès, Jâng-bâjângan Robâna Dhika”. Di dalamnya ternyata diketahui terdapat serangkaian penjaringan dan pembelajaran mengenai puisi. Misalnya dibuka pengiriman puisi yang dikhususkan bagi pelajar, mahasiswa, dan santri yang ada di Bangkalan. Karya-karya mereka yang masuk kemudian diseleksi jadi 1 paket untuk didiskusikan kepada pemateri. Ada Mancing Sastra, Dapur Penulisan, Publikasi Puisi, Bincang Puisi, dan Parade Baca Puisi.

Secara keseluruhan perancang artistik FPB 4, Joko Sucipto menegaskan, “FPB 4 yang dilaksanakan ini selain sebagai perjalanan panjang, juga merupakan ruang gerak kami untuk terus berinteraksi dengan masyarakat. Terutama generasi penulis yang harus terus dicari,” demikian kata penulis antologi puisi “Klonnong” itu.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here