Sastrawan Indonesia

Ia merasakan pertautan langit dengan bumi saat membayangkan betapa menyenangkan perjalanan yang akan ditempuhnya. Di hadapanku kaki langit, bisiknya. Kaki itu yang mengenangkannya, bahwa ia masih di bumi. Tubuhku, bisiknya, separuh telah terdorong ke langit. Ia merasa senang, merasa lepas di bawah langit yang bebas. Berpikir tempat-tempat perhentian, waktu yang ia habiskan, orang-orang dengan kegiatannya, membuatnya merasakan tekanan demi tekanan seolah tanah yang bergeser karena gempa. Aku tidak perlu memikirkan hal-hal yang menjengkelkan hatiku. Semua telah diambil alih oleh jarak serta waktu. Wajah-wajah muncul dalam pikirannya. Apakah aku membenci mereka? Tidak. Aku tidak membenci mereka. Ia senang saat mendapati jawaban ini. Didengarnya sekali lagi suara hatinya. Tidak ada yang berubah. Sebaliknya ia menyukai laku tangan dari wajah-wajah yang ia bayangkan.

Mereka itu baik, hanya tidak mengerti bagaimana mengolah bunyi yang keluar dari mulutnya. Mulut mereka memang berbeda dengan mulutmu, mulutmu menyadari apa artinya bunyi, sebaliknya mereka tidak menyadari apa artinya bunyi. Bunyi adalah, dan ia mengisinya seraya matanya melihat ke jalan yang lurus. Ia merasakan desau angin di wajahnya saat sejenak membuka kaca jendela. Tangannya buru-buru menutup jendela. Kesenyapan kembali lagi. Hatinya mulai merasa sunyi saat mobilnya melaju membelah kekosongan. Jalanan sepi seperti hidupmu. Hidupku memang sunyi seperti bunyi yang murni. Hanya bunyi saja tanpa suatu arti yang menyertainya.

Dulu bunyi ini riuh, katanya. Kini tidak lagi. Hanya senyap sebab mereka berkumpul dalam hatinya. Tidak pernah keluar. Tersekap dengan baik di dalam. Ia ingat salah satu keriuhannya. Saat itu hujan turun di kota yang membawa tubuhnya kini mendekat. Hujan turun tapi malam belum datang. Masih sore saat cuaca terasa, warnanya seakan malam yang remang. Ia berbicara dan setiap kata seolah berlomba dengan air hujan. Hujan jatuh ke bumi. Kata jatuh dari hatiku. Kukira mulutmu seolah bumi yang menampung air hujan. Ia senang dengan persamaan ini. Membayangkan mulutnya seluas bumi yang menadah hujan adalah sebuah kegembiraan.

Aku masih kanak-kanak saat melompat-lompat di bawah hujan, berpikir apakah tubuhnya yang riang atau hatinya. Kukira keduanya. Hatiku riang di bawah hujan. Matanya berharap agar titik-titik air tidak usah berhenti. Sebaliknya makin membesar. Angin juga janganlah berhenti. Biarlah mereka menjadi musik hujan ini. Menjadi orkestra bagi tubuhku. Bunyi riuh dalam hidupku. Segala perasaan hatiku ada di sana, tumpah-ruah. Air yang jatuh bsrsambungan seakan bunyi yang murni. Tidak ada pengertian di sambungan yang turun dari langit ini. Sesekali matanya, berusaha menangkap celah, tapi selalu tertutup. Sambungan air hujan ini tidak ada. Benar-benar sempurna menggambarkan arti yang menjadi ciri bahasa. Seolah-olah mataku yang berusaha melihat celah ini adalah angin yang kehalusannya melebihi air hujan. Tidak mungkin hanya setitik air hujan bisa membasahi bumi. Ia teringat telunjuknya yang mencelup saat berada di pinggir laut. Saat ia mengangkat tangannya air laut tidak terlihat di jarinya.

Seperti itulah keadaannya, saat ia berusaha melawan dingin dan angin, dalam usahanya melihat sambungan air hujan yang demikian lebat. Usahaku selalu sia-sia. Sesia-sia telingaku mendengar jeda dari sambungan angin. Matanya selalu gagal melihat angin. Apalagi melihat sambungan angin. Andai aku bisa melihatnya, kukira akan kuikuti setetes air hujan yang jatuh itu. Andai yang jatuh ini bergerak cepat dibawa angin, kakiku akan sedia mengejarnya. Aku mengejarnya sampai ke atas bukit karena angin membawa setitik air hujan ke sini. Atau aku tetap mengejarnya kalau setitik air itu berputar ke tepi laut. Aku akan menunggunya saat ia jatuh. Kesabaran pasti berguna. Saat ia jatuh aku akan memungutnya. Itulah waktu bagiku untuk bertanya baik-baik. Ada apa dengan kamu. Mengapa kamu tidak seperti yang lain. Apa yang kamu cari dengan memisahkan diri seperti ini.

Hatiku terasa sedih saat melihat matanya basah. Menyadari air hujan telah menangis di depanku. Dengan jelas mataku melihat matanya, melihat titik-titik air jatuh dari matanya. Kamu hanya setitik air hujan, tapi mengapa matamu kini meneteskan air mata, bisikku seraya terus memandangi matanya. Matanya tetap di sana, di wajahnya. Tubuhnya tetap air hujan yang telah membuat tubuhku berlari mengejarnya. Laut seolah-olah tahu keadaan kami, ia mengirimkan ombaknya perlahan-lahan, sampai ke kakiku. Kakiku merasa air laut sampai ke lututku. Bahkan aku merasa ia menghiburku, dengan cara tanpa henti mengirimkan gelombangnya. Apakah ia mengira aku membutuhkannya? Ia mengirimkan air untuk mendinginkan diriku. Kenyataannya tubuhku telah basah oleh hujan. Mataku, berair saat melihat setetes air hujan yang kini menangis di depanku.

Hudan Hidayat, Sastrawan dan esais yang kini menghibahkan hidupnya beribadah lewat jalan menulis dan mengabdi kepada kehidupan lewat tulisan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here