Lukisan by : Taman Saraseh

 

Tato adalah seni yang sangat indah bagi Doblar. Dengan perawakan tubuh yang besar, mata bulat, rambut ala-ala delapan enam, dan lima tato di tubuhnya, ia sering dicap sebagai preman oleh kebanyakan warga Desa Pembungan. Maklum, ia anak rantauan dari Pulau Jawa, baru menetap 6 bulan di Bali. Namun, lima tato itu baru dibuatnya selama menetap di Bali. Ketertarikannya pada tato dimulai ketika ia datang pada acara Bali Tatto Expo. Doblar tinggal di rumah indekos bersama tuan rumahnya, Pak Ngurah. Sebagai tuan rumah, Pak Ngurah sangat baik sejak awal kedatangan Doblar. Wajar saja, saat itu Doblar masih bersih, dan terlihat seperti anak baik-baik. Namun setelah menetap selama enam bulan, Pak Ngurah merasa Doblar mulai menjadi orang yang nakal. Bagaimana tidak, ia mulai bertato. Dengan predikat sebagai preman, Pak Ngurah menjaga jarak dengannya. Doblar menjalani bekerja sebagai penjaga villa. Ia ditawari pekerjaan sejak pertama kali tiba di Pembungan oleh Pak Ngurah. Wajar saja, Doblar harus membayar uang sewa kamarnya.

Malam ini malam minggu, kebetulan Doblar libur. Ia hendak pergi dengan motor bebek yang dibeli dari uang kiriman kerabatnya di pulau Jawa. Tepat pada pukul 8 malam ia tiba di sebuah tempat bernama STS (Sanur Tato Studio). Doblar tercengang, pemuda bertato yang tempo hari ia lihat mengenakan busana adat Bali ternyata ada disini. Maklum, ia sangat tertarik pada tato. Ia selalu mengamati tato orang lain. STS memang populer di daerah Sanur, jadi wajarlah banyak yang mengantre. Doblar sengaja duduk di sebelah Gusti, pemuda tempo hari yang baru saja ia ajak kenalan.

“Gus, kamu nato apa?”
“Rage kal ngai Barong, Blar. Engken? Eh saje, sing be ngerti ye. Aku mau buat tato Barong.”
“Keren! Aku mau buat tato yang identik sama Bali, apa ya kira-kira?”
“Rangda mungkin, Blar.”

Setelah percakapan itu, Gusti dipanggil untuk masuk ke dalam ruangan. Tepat setelah Gusti selesai ditato, giliran Doblar yang masuk. Doblar duduk, kemudian ia mengatakan ingin ditato Rangda dengan ukuran yang agak besar pada lengan kanannya, dan tukang tato mengiyakannya. Doblar sangat antusias. Satu jam berlalu, ia selesai bertato, dan pulang. Hasil tato di STS memang terbaik, Doblar merasa makin gagah. Mungkin orang lain bertato sekadar bertato, namun Doblar sebagai orang yang tertarik dan cinta pada tato selalu punya makna dalam tato-tatonya, termasuk tato Ragda yang baru pertama kali ia dengar, dan pertama kali ia lihat, tepat dilengannya. Setelah itu, ia memilih untuk pulang, sebab pukul 6 pagi ia harus bekerja.

Celotehan ayam pagi-pagi buta membangunkannya. Pagi itu awal bulan, Doblar harus membayar sewa kamarnya. Doblar bangun dari tidurnya dan hendak keluar kamarnya. Namun, Pak Ngurah sudah lebih dulu berdiri di depan pintu kamarnya. Ketika membuka pintu, Doblar terkejut. Percakapan yang terjadi antara mereka sangat singkat. Pak Ngurah menagih, Doblar membayar, setelah itu pergi. Sikap Pak Ngurah yang berubah disadari oleh Doblar. Doblar merasa bingung akan kondisi seperti ini. Ia merasa Pak Ngurah tidak mau berinteraksi banyak dengannya. Apalagi akhir-akhir ini banyak sekali kasus kriminal yang dikait-kaitkan dengan Doblar. Akibatnya, Pak Ngurah sering sekali menjadi sasaran awal kemarahan warga, lantaran menampung pelaku kriminal. Padahal pelaku kriminal yang dimaksudkan itu pun belum terbukti kekriminalannya.

Ketakutan Pak Ngurah bermula ketika ada kasus pencurian sepeda gayung, milik Pan Belor. Kejadian malam itu terekam oleh CCTV, namun sayang wajah pelaku tidak terlihat jelas pada rekaman. Pan Belor hanya menyaksikan pelaku dengan wajah tertutup topeng, dan tubuhnya bertato. Pan Belor curiga Doblar lah pelaku pencurian itu. Apalagi ia seorang anak rantau, pasti membutuhkan uang. Mau tidak mau pasti akan mencuri untuk mengisi perutnya. Ditambah lagi ia bertato, persis seperti pencuri dalam rekaman. Atas dasar kecurigaannya, Pak Belor langsung bergegas mengumpulkan warga untuk menangkap basah Doblar. Keributan terjadi di depan rumah Pak Ngurah. Pak Ngurah bersama istrinya keluar dengan panik. Lama mereka berdebat. Pak Ngurah meyakinkan warga bahwa bukan Doblar pelakunya, karena sepengetahuannya sejak tadi sehabis pulang bekerja, Doblar hanya mengurung diri di kamarnya. Untuk lebih meyakinkan, Pak Ngurah juga menelepon Wayan untuk menanyai apakah Doblar bekerja hari itu. Sayangnya, Warga tidak mempercayai ucapan Pak Ngurah. Mereka menganggap Pak Ngurah bersekongkol dengan Doblar. Hingga pada akhirnya, Pan Belor memilih melaporkannya ke polisi. Warga pulang berhamburan, menunggu kasus ini tuntas.

Malam itu, Doblar akan bergegas pergi bekerja menggunakan motor bebeknya. Normalnya, ia akan melewati gapura perbatasan desa, kemudian melewati sawah, baru sampai di tempat kerjanya. Namun pada saat itu, perjalanannya seperti tidak berujung, dan ia tersesat. Doblar sedang berada di sebuah jalan yang sisi kanan dan kirinya adalah hutan. Doblar menyusuri hutan tersebut dengan harapan ada pemukiman di sekitarnya. Hari menjelang sore, ia masih sibuk mencari pemukiman warga. Sedari tadi, ia merasa diawasi. Ia merasa ada seseorang yang memata-matainya. Tak terasa hari menjadi malam, Doblar belum menemukan rumah warga satu pun. Ia memilih beristirahat di bawah pohon kamboja. Tidak lama kemudian, terdengar suara anjing mengaung yang entah asalnya dari mana. Doblar terkejut takut, ia baru menyadari, sisi kanannya adalah kuburan. Ia merasa ketakutan dan lari. Tiba-tiba ia berhenti. Ia kaget melihat percikan api jauh di depan matanya. Kemudian, muncul dari sisi lain sesosok seram yang menatapnya. Doblar semakin panik, dan ketakutan. Sesosok seram itu perlahan mulai maju mendekat, dan Doblar memilih mundur, kemudian lari ke arah semula. Sosok itu ternyata mengejar Doblar. Doblar lari dengan sekencang-kencangnya, hingga pada akhirnya ia terjatuh.

“Mundur-mundur jangan ganggu aku!” Doblar berteriak. Sosok seram itu justru makin mendekat dan tertawa puas. Hingga pada akhirnya, Doblar terbangun dari tidurnya. Jantungnya berdetak kencang, ia baru menyadari bahwa sosok seram itu adalah Rangda. Ia memilih tidak melanjutkan tidurnya, ia tidak ingin mengulang mimpi serupa. Berbarengan dengan keputusannya, saat itu juga Warga yang menuduhnya mencuri, berhamburan pulang. Doblar tertidur saat terjadi keributan. Pintu Kamar Doblar di ketok Pak Ngurah untuk mencari pengakuan. Doblar terkejut mendengar tuduhan warga. Ia baru saja bangun dari mimpi buruknya, dan orang-orang justru menuduhnya mencuri. Doblar bingung.

Doblar tiba di tempat kerjanya tepat waktu. Saat itu waktunya pergantian jam kerja, Doblar menggantikan sahabatnya, Dewa. Dewa adalah pemuda asli Desa Pembungan yang tetap bersikap baik kepada Doblar. Doblar menceritakan kejadian malam itu pada Dewa, mulai dari mimpinya hingga pencurian itu. Dewa tidak berkata banyak soal kasus pencurian itu, ia tidak mau menuduh. Namun, ia menyimpulkan bahwa mimpi dikejar Rangda bisa saja menjadi sebuah pertanda bagus, tapi entah ia tidak tau soal apa itu. “Apakah kau yakin tentang keberadaan Tuhan” tanya Dewa secara tiba-tiba. Doblar merasa binggung akan pertanyaan itu, “Tentu aku yakin”. Doblar kemudian menjelaskan keyakinannya, mulai dari siapa itu Tuhan, hingga caranya bersyukur. Dewa mengapresiasi cara bersyukur Doblar, yaitu dengan cara tidak pernah mengeluhkan kehidupannya. Tetapi, Doblar lupa soal sembahyang. Sebelum pamit pulang, Dewa menyarankannya agar ia mulai bersembahyang sesuai keyakinannya sebagai bentuk memuja Nya, terutama dengan iklas.
Lagi-lagi terjadi pencurian di rumah Pan Belor. Ini sudah kedua kalinya terjadi di rumah seorang mantan TKI itu, dan kali ini uang dalam jumlah banyak yang berhasil dicuri. Tidak ada rekaman CCTV, sebab pencuri memotong kabelnya terlebih dulu sebelum melakukan aksi. Pan Belor tanpa pikir panjang, mengumpulkan seluruh warga bersama sulutan api kemarahan. Doblar adalah incaran mereka. Warga yakin bahwa pelakunya lagi-lagi ialah Doblar, apalagi ia berhasil lolos dari kasus pencurian pertama.

Keributan terjadi di depan rumah Pak Ngurah. Sejak kasus pencurian pertama, Pak Ngurah ikut terkena imbasnya, ia dikucilkan. Ia merasa malas ikut campur, kemudian memanggil Doblar untuk menjelaskan langsung kepada massa. Belum sempat ia menjelaskan alibinya atas tuduhan pencurian kemarin, Pak Ngurah hari ini datang lagi. Kali ini bersama para warga berwajah geram, yang mengepalkan tangan dengan sarung tinju yang siap meninju samsak. Doblar keluar dengan kebingungan, sebab ia dituduh mencuri lagi. Tanpa basa basi, Doblar dihakimi. Ia babak belur. Doblar hendak dibawa ke kantor polisi, namun dihalangi oleh Pan Belor. Pan Belor mengusulkan untuk malakukan pengusiran. Bertepatan dengan itu, Dewa yang mendengar teriakan Pan Belor, langsung datang menghampiri kerumunan itu. Dewa adalah tetangga dari Pan Belor. Melihat tingkah Pan Belor, Dewa mulai geram dan angkat bicara.

“Kemarin, tepat setelah aku pulang bekerja. Tepat setelah Doblar menceritakan kegaduhan kasus pertama yang menyangkut dirinya. Saat aku di rumah, aku melihat polisi datang ke rumah mu, Pan Belor. Terdengar jelas oleh telingaku, bahwa pelaku pencurian sepeda gayungmu sudah tertangkap. Lalu apakah kalian semua diberitahu? Justru tidak. Pan Belor menghindari malu. Kemudian, dari jauh aku mendengar teriakan Pan Belor soal Doblar yang mencuri uang. Aku heran, mana buktinya? Kalian semua tidak sadar. Alasan Pan Belor tidak mau membawa ke kantor polisi, tidak lain karena ia tidak punya bukti. Kalian justru mau saja dibodohi olehnya. Doblar memang orang yang bertato, lalu apakah ia merugikan kita semua? Bahkan ia tidak pernah meminta bantuan kita, dan tidak pernah mengeluhkan kehidupannya, termasuk dikucilkan satu warga desa, yang tidak lain karena hasutan Pan Belor.” Ungkap Dewa dengan sangat marah.

“Pan Belor, kau seorang yang pikun. Tadi aku melihat Andini, keponakanmu mengunjungi mu. Aku dengar Andini membutuhkan uang. Apakah kau yakin uangmu hilang dicuri Doblar, atau kau berikan Andini? Atau perlu aku hubungi Andini?” tanya Dewa.
Suasana saat itu mendadak hening. Pan Belor, bergegas pergi meninggalkan kerumunan, disusul oleh yang lainnya hingga menyisakan Pak Ngurah, Dewa, dan Doblar. Pak Ngurah dan Dewa membantu Doblar ke kamarnya, dan mengobatinya. Tanpa sadar, Doblar tertidur. Suara ayam berkokok terdengar nyaring di telinganya, ia terbangun. Begitu membuka matanya, disaksikannya beberapa warga yang sedang sibuk membawa hidangan sarapan pagi untuknya. Doblar terdiam binggung. Dewa pagi itu datang menjenguk Doblar. Tiba-tiba saja ia berkata “Mungkin ini arti mimpi dikejar Rangda itu. Kau mendapatkan pengakuan dari warga desa atas kesabaranmu selama ini.”

Biodata Penulis :

Bagus Adi, lahir di Denpasar, Bali, tanggal 30 Mei 2000. Kini menempuh pendidikan sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Pendidikan Ganesha. Bisa dihubungi melalui nomor gawai/WhatsApp 0895623455744, surel adi.kesuma30@gmail.com, facebook Adi Kesuma Jaya, dan instagram adikesumaj.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here