Lukisan karya: Tamar Saraseh

Cerpen Muna Masyari

 

Lihatlah perempuan itu! Tatap mata lengangnya lebih lekat. Kau akan menemukan, betapa ia terperangkap dalam kekosongan yang demikian senyap. Betapa ia sudah terjatuh dalam lubang curam. Kau bisa menemukan lubang-lubang di kekosongan matanya. Juga di dadanya. Lubang kekalahan.

Ringkih. Matanya cekung berlingkar kelabu. Rambut panjangnya dibiarkan kering tergerai. Kulitnya mulai mengendur. Bibirnya pucat-retak. Coba kaubandingkan dengan gambarnya yang pernah terpampang di baliho-baliho besar di sisi jalan desa. Masih begitu cantik dan berwibawa; dengan blazer merah dan rambut digelung anggun. Senyumnya rekah-basah, secerah harapan untuk membangun sebuah desa yang sejuk, bersih dan hijau.

Lihat! Betapa sekarang ia berubah menyedihkan. Sepanjang hari hanya berdiri kaku, menatap hampa keluar jendela. Sepanjang malam hanya terbaring diam, menatap langit-langit kamar dengan hambar. Tidak bergerak. Begitu terbaring dengan tubuh telentang, begitulah posisinya hingga matahari rekah di ufuk timur dan cahayanya mencuat dari celah-celah jendela, menggaris hangat di wajahnya. Tidak berubah. Masih untung kalau matanya sempat memejam lelap.

Ia tak pernah berupaya menutup lubang di dadanya. Seolah menikmati kenyerian. Perang telah mengggalikan lubang di dadanya. Di matanya.

***
Dengan menjadi sekretaris desa, ia sudah dipandang sebagai perempuan bermartabat. Tidak sia-sia orangtuanya menggadaikan sawah demi membiayai sekolahnya. Senyum hangat selalu ia terima dari orang-orang yang menganggapnya beda dari perempuan-perempuan lain di desanya. Bandingkan saja dengan Mudipah, teman sebayanya yang dulu memilih meninggalkan bangku sekolah saat masih kelas emapat, dan ikut ibunya menanam padi di sawah. Hingga sekarang, hampir setiap hari Mudipah hanya bercengkerama dengan bengis matahari, membantu suaminya. Bandingkan juga dengan Marpiyah, yang hampir tiap pagi menjaja ikan keliling kampung, berjalan tanpa sandal dengan sampir separuh lutut, tumitnya retak-retak kehitam-hitaman dan wajah berleleh peluh dan berbau kecut. Wajar jika perempuan itu dinilai beruntung disbanding teman-teman sekampung.

“Calon kali ini tidak terlalu kuat. Ibu tahu sendiri, Murakkab terbukti melakukan penggelapan beras miskin. Sementara Subahri hanya seorang santri yang baru keluar dari pondok, yang tentunya masih awam untuk menangani persoalan masyarakat. Hanya karena ditunjuk Ke Sujak ia nekat mencalonkan diri.” Ujar Arsap, salah satu warga dari kampung dua.

“Iya, Bu. Kalau Ibu mencalonkan diri, kami siap mendukung dan menjadi tim sukses. Saya yakin Ibu akan menang.” Dukung Dulatep, tak kalah semangat.
Arsap dan Dulatep adalah warga desa yang sering datang ke balai menemui perempuan itu untuk mengurus pembuatan surat-surat; Kartu Keluarga, Akte kelahiran, KTP dan lainnya, atas suruhan warga.

Perempuan yang sebenarnya masih muda itu tersenyum tipis. Tidak terlalu minat. Namun kian hari, dukungan dan permintaan kian ramai mendatangi rumahnya. Seperti belati yang menikam kebimbangan.

Baru pada hari terakhir pendaftaran, ia memutuskan mendaftarakan diri sebagai calon kepala desa. Tanah warisan orangtuanya yang dulu pernah tergadai demi melunasi pembayaran uang sekolah, sekarang terpaksa digadaikan lagi untuk mendaftarkan diri jadi colon kepala desa.

“Asal warga mendukung, saya siap mencalonkan diri.” Tegasnya, di hadapan Arsap, Dulatep, dan tiga orang lain yang berkunjung ke rumahnya.
Kabar pencalonannya pun tersiar ke segenap penjuru desa.

***
Program-program untuk membangun desa jika terpilih sudah disiapkan. Nanti, klinik desa lebih diberdayakan dengan cara menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam hal meningkatkan kesehatan. Terutama tentang persalinan ibu-ibu yang selama ini hanya menggunakan jasa dukun beranak; dengan cara kerja yang tidak higienis. Pendidikan akan semakin digalakkan untuk menekan angka anak putus sekolah. Penghijauan dan kebersihan lingkungan akan dijadikan prioritas penanganan serius. Terutama pembuatan jamban, agar warga tidak buang hajat di sembarang tempat, yang menyebabkan teror demam berdarah setiap musim hujan. Kerajinan batik dan keterampilan jahit-sulam akan dihidupkan bagi kaum perempuan. Apalagi, sejak kabupaten dipatenkan sebagai kota batik, pangsa pasar perbatikan sangat menanjak. Tentu sangat bagus untuk perbaikan ekonomi.

Perempuan itu tersenyum penuh keyakinan. Lebih-lebih saat melihat kinerja tim suksesnya yang tak kalah semangat, dipimpin Arsap dan Dulatep. Pendekatan dilakukan dengan cara mendatangi tempat-tempat keramaian, seperti kedai kopi hingga acara-acara perkumpulan semacam Jamiyah Malam Jumatan dan Jamiyah Tadarus.

***
Wajahnya pucat. Tubuhnya sering gemetar tanpa sebab. Sudah tiga hari ia terbaring lemah di pembaringan. Kepalanya pusing-pusing. Perutnya mual. Tubuhnya lemas.
“Hamil?” mulutnya mendesis. Kaget.

Suaminya mengangguk sumringah. Sepeda motor dokter yang baru memeriksanya masih menyisakan deru samar meninggalkan halaman.
Tujuh tahun ia menunggu janin tumbuh di perutnya. Namun jika impian itu terwujud kali ini, bagaimana dengan pencalonan dirinya sebagai kepala desa? Apalagi suaminya mengharuskan istirahat total sebagaimana saran dokter.

Kabar mengenai hamilnya pun tersebar menjadi kabar hangat di pasar, di kedai-kedai, di sawah, dan tempat-tempat keramaian lainnya.
“Masak desa kita akan dipimpin perempuan hamil? Belum mampu mengurus masyarakat, ia sudah akan melahirkan dan disibukkan dengan bayinya. Kapan akan memikirkan kemajuan desa?” ujar seorang bapak di sebuah kedai kopi, seraya menyulut sebatang kretek.

“Betul juga!” timpal yang lain.
“Perempuan banyak repotnya.”
“Masih ada calon lelaki yang lebih pantas memimpin desa,”
Mendengar desas-desus kekhawatiran warga mengenai kehamilan dirinya, perempuan itu tambah pusing. Lebih-lebih, opini yang disebar pendukung lawan semakin merugikan pihaknya. Katanya, perempuan tidak laik jadi pemimpin selagi ada kaum lelaki yang pantas menduduki kursi pimpinan.
Diam-diam ia menyesali kehamilannya.

***
“Kenapa tidak hamil nanti saja?” pas ketika suaminya mengantarkan bubur sarapan.
“Kau ini bicara apa?” sergah suaminya. Meletakkan sepiring bubur hangat di atas meja.
Ia diam beberapa jenak. “Bagaimana kalau kita gugurkan saja.” Lirih. Ragu. Menatap suaminya dengan perasaan kacau.
“Apa?” mata suaminya membelalak.
“Kehamilan bisa kita rencanakan lain waktu. Tapi pemilihan ini sudah tanggung. Aku sudah jauh melangkah, aku tidak mau kalah.”
Mata suaminya memerah menahan gelegak amarah. “Aku tidak peduli kau kalah atau menang di pemilihan nanti. Aku hanya ingin kau jadi ibu, bukan kepala desa!”
“Tapi aku sudah terdaftar. Sawah juga digadaikan. Tidak sedikit dana yang sudah dikeluarkan. Warga sudah menaruh harapan besar padaku. Tidak ada jalan lain! Lebih baik mengorbankan satu nyawa daripada membunuh harapan warga desa!” dalih perempuan itu bersiteguh.
Sang suami menggelengkan kepala memeram geram, melihat istrinya membatukan kepala.

***
O, lihatlah! Tatap mata lengangnya lebih lekat. Lebih dalam. Kau akan tahu, betapa ia terperangkap dalam lubang dalam yang pernah digalinya. Betapa ia sudah terjerumus dalam kedalaman yang begitu curam, hingga sulit untuk bangkit. Siapa yang pantas disalahkan sekarang?
Setelah semua dikorbankan, justru tatapan sinis dan jijik yang ia dapatkan dari warga desa. Terutama dari para ibu tetangga yang semula berdiri di barisan depan, mendukungnya agar mencalonkan diri. Ia dinilai perempuan paling kejam karena membunuh janin tak berdosa dalam kandungan.
“Lebih baik punya kepala desa yang mengembat bantuan dari pemeritah daripada pembunuh!” cibir seorang ibu, dengan suara yang sengaja dinyaringkan, saat ibu itu menghentikan Marpiyah si penjaja ikan di pinggir jalan. Tepat di depan rumahnya.
“Betul.” Diamini yang lain.
Kini ia sendiri. Suaminya telah pulang ke orangtuanya. Menceraikan dirinya sejak baru pulang dari rumah bidan dengan perut tanpa janin.
Perang telah usai. Ia kalah. Hampir tiap pagi ia hanya memaku di bingkai jendela. Tatapannya kosong, seolah tidak melihat langkah gegas Mudipah dan suaminya yang hendak pergi ke sawah, melintasi seruas jalan di depan rumahnya. Tidak mendengar lengking teriakan Marpiyah yang menawarkan ikan, dan terdengar sejak masih di kejauhan. Tidak menghiraukan pagi yang diriuhi anak-anak bermain gempuran dengan telanjang kaki di halaman rumahnya.

***
Madura, September

 

Data Penulis:
Muna Masyari, tinggal di Pamekasan, Madura, Jawa Timur.
Cerpen-cerpennya termuat di Jawa Pos, Suara Merdeka, Republika, Sinar Harapan, dan pelbagai media lainnya. Bisa dihubungi melalui:
Email; masyarimuna@gmail.com
Facebook; Muna Masyari
HP: 0877 5042 5043

Jangan lupa di subscribe juga youtube kami:

https://www.youtube.com/channel/UCEClnSQesNF-zdDjAOeZqmA

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here