Cerpen : Pandu Kalam


Tubuhnya makin tersiksa; dirasanya pagi yang dingin bagai tengah hari yang panas, kepalanya seakan dihantam benda tumpul dengan sekaras-kerasnya. Malam hari tak ada yang bisa istirahat dengan tenang, seorang suami yang tabah dan ketiga anaknya yang lugu sangat resah dengan keadaan macam ini. Ketiga orang anak itu menangis sejadi-jadinya dan ayah yang tabah hampir semalaman tak tidur karena diganggu teriakan mengerikan dari sang istri serta sesekali menanyakan apa keluhannya, hingga kini masuk waktu pagi pun keadaannya masih amat menyedihkan. Suami berusaha mencari jalan keluar, yang ada dalam pikirannya adalah antara dokter dengan rumah sakit, tak ada yang lain.
Maka ketika waktu menunjukkan pukul 08:00, dengan tergesa-gesa suami yang tabah menyiapkan segala yang dibutuhkan untuk ke rumah sakit. Raungan kesakitan masih menggema hebat. Tetangga berbondong-bondong datang dengan wajah cemas, menengok sedari subuh, hingga halaman rumah tampak ramai seperti ada hajatan besar yang memang sedang musimnya di kampung itu.
Ketiga anak yang masing-masing berselisih umur satu tahun itu tak ke sekolah, libur dulu kata ayahnya yang tabah. Mereka pun keluar dari rumah, membelah keramaian dan menuju mobil yang telah disediakan dan terpakir tepat di mulut gerbang halaman rumah. Istri yang meraung kesakitan dibopong oleh empat lelaki yang bertubuh gagah, suami yang tabah salah satunya.
“Jangan kepung aku!! Panaaaasss!!!” Teriak Sang istri dalam bopongan empat lelaki bertubuh gagah tadi.
Mobil sudah melaju sekencang-kencangnya. Para tetangga menatap mobil yang telah laju itu seakan tak rela melewatkannya, hingga mobil itu pun hilang dari pemandangan. Mereka bubar, kembali ke rumahnya masing-masing.
Di tengah perjalanan, ketiga anak itu menangis sejadi-jadinya karna tak tega melihat ibunya dirundung malang. Raungan kesakitan dari ibunya terdengar jelas di luar mobil. Orang-orang dari depan, belakang, samping kanan, dan kiri mobil mengarahkan pandangan heran, tertuju pada satu arah; mobil mereka. Keaadaan makin bertambah sesak setelah salah seorang dari orang banyak itu menghadang dan menggedor kaca mobil mereka. Ayah yang tabah hanya bisa menenangkan ketiga anaknya dan istrinya yang tetap meraung itu, walau dipikirnya hal ini merupakan sesuatu yang amat konyol.
“Woi!! Buka kaca mobilnya!” Bentak orang tadi. “Ada apa ini?!”
Desakan orang tadi tak bisa dihindari, dan akhirnya dilayani dengan baik oleh suami yang tabah, katanya pada orang tadi, istrinya sedang sakit dan bermaksud membawanya ke rumah sakit, sesegera mungkin. Orang itu terperanjat, segera berjalan ke depan mobil, dan memainkan tangannya seraya memberi perintah kepada semua orang yang masih dalam keadaan heran itu untuk menepi—memberi jalan bagi mobil itu, jalan dibuka kembali dan mobil melaju sekencang-kencangnya, lagi.
Setibanya di rumah sakit, sang istri masih meraung kesakitan, suami yang tabah segera keluar dari mobil, berlari menuju dan mencari petugas kesehatan. Tatapan aneh dan omongan bisik-bisik datang dan terdengar dari berbagai arah. Pikir sang suami yang tabah, persetan dengan kalian!
“Petugas, cepat! Istri saya sekarat dalam mobil!”
Dua petugas membawa tandu berlari pontang-panting menuju mobil sedan hitam. Didapatinya wanita itu maraung dan seketika mengamuk saat tangan mereka memegang tangan wanita itu. “Lepaskan!!” Tukas wanita yang meraung itu.
“Jangan dengarkan, angkat saja!”
Dua petugas kesehatan mengalami kesulitan, dan tentu mengharapkan bantuan tambahan tenaga. Suami yang tabah melirik para pengunjung rumah sakit yang sedikit ketakutan itu dengan harap bisa membantunya, namun tak ada yang sudi sama sekali. Kemudian suami yang tabah tergopoh-gopoh masuk lagi ke dalam rumah sakit, mencari dan memanggil petugas kesehatan untuk membantu mengangkat istri yang malang.
“Tak bisa dibawa menggunakan tandu!” Kata salah seorang petugas kesehatan, “Kita bopong saja.”
Dokter merasakan kegaduhan yang terjadi di luar, dokter pun segera berlari dan menengok apa yang terjadi di luar sana. Dilihatnya empat orang petugas tergopoh-gopoh membopong wanita yang meraung dan ngamuk tak karuan. Sigap, ia mengarahkan keempat petugas tadi ke ruang ICU.
Ruangannya memecahkan kesadaran siapapun, hingga setibanya di ruang ICU, dokter dengan gerakan penuh wibawa memainkan isyarat tangannya yang ditujukan kepada dua suster di samping kanan dan kirinya untuk segera memasang segala macam kelengkapan medis yang diperlukan. Suami yang tabah menitikkan air mata melihat istri tercinta dalam keadaan kacau. Ketiga anaknya dirangkulnya kuat-kuat, dan membisikkan, “Sabar, Nak. Doakan Ibu dalam setiap tangismu.”
Beberapa saat kemudian, dokter datang menghampiri suami yang tabah sambil melepas stetoskop di telinganya dan membawa hasil pemeriksaan sementara. Bahwa paru-paru dan jantungnya sangat lemah akibat terikan yang berlebihan sehingga menguras tenaganya sendiri. Tak ada tanda-tanda penyebab wanita itu meraung kesakitan selain tubuh yang amat panas. Dokter itu awalnya mengerutkan keningnya, selama 15 tahun bekerja tak pernah dihadapkan dengan jenis penyakit seperti pada pasien ini, istri dari suami yang tabah itu, hingga akhirnya untuk meredakan raungan yang tentu mengganggu pasien lain, maka wanita tersebut dibius.
Dan kabar yang lebih mengagetkan lagi, bahwa dokter tak menyanggupi jenis penyakit ini. Ia menyarankan untuk pindah ke rumah sakit yang ada di luar daerah. Suami yang tabah tambah murung.
“Istrimu akan sadar dalam beberapa jam ke depan.” Kata dokter, “Jangan undur waktu lagi, bawa segera istrimu ke rumah sakit yang lebih memadai.” Dokter berlalu.
Anaknya tertidur pulas setalah semalaman tak beristirahat dengan tenang, suami yang tabah tak tahu lagi bagaimana cara mengatakan kepada ketiga anaknya atas apa yang disampaikan oleh dekter tadi. Ia bingung, kepalanya diremas-remas sejadinya, hingga ia tenggelam dalam tidurnya.


Dia berjalan di jalan setapak. Tak ada rumah-rumah pun tumbuh-tumbuhan, jalan setapak dikepung gelap gulita, sinar sepanjang jalan entah dari mana asalnya, ia tak tahu. Di balik gelap gulita samping kanan dan kiri jalan, terdengar suara berbagai macam hewan buas hingga melata. Langkahnya terhenti dengan tiba-tiba, seluruh tubuh terasa kaku selain mata yang bisa berkedip dan mulutnya yang tiada henti berkomat-kamit mengucapkan sumpah-serapah karena berada di tempat asing ini, ia ketakutan. Di depannya tampak seorang pria paruh baya tanpa busana dan seorang wanita juga tanpa busana yang sudah tak asing baginya.
Wanita itu diikat pada sebuah tiang di tengah jalan setapak ini, ketakutan tergambar jelas di wajahnya. Lalu seorang pria paruh baya itu menghampiri wanita yang diikat di tiang tadi. Terdengar olehnya apa yang dikatakan oleh pria paruh baya dan wanita yang diikat. Wanita menangis dan berteriak sejadinya, pria paruh baya tertawa terbahak-bahak, kegirangan. Ia ingin menghajar pria paruh baya itu, namun tubuhnya tidak bisa bergerak, sedikit pun. Sumpah-serapah kembali terlontar dari mulutnya yang tertuju pada pria paruh baya itu, namun sama sekali tak ditanggapi, walau sekadar menoleh.
Tanpa mempedulikan siapapun, pria paruh baya itu menyetubuhi wanita yang diikat di tiang tadi, persis di depan seorang lelaki yang tubuhnya kaku itu. Setelah melakukan perbuatannya, pria paruh baya itu menangis sejadinya. Wajahnya dipukulnya sendiri, berkali-kali, hingga darah muncul dari matanya, lubang hidungnya, dan mulutnya, apa lagi. Giginya jatuh satu persatu karena hantaman kepalan tangannya yang tiada henti. Ia baru merasakan penyesalan dan tenggelam olehnya. Wanita yang disetubuhinya tadi, kini lemas terkulai, dan pingsan.
Pria yang tubuhnya masih kaku tak berdaya itu menangis tersedu-sedan.
“Bajingan kau!” Teriak lelaki yang tubuhnya kaku tak berdaya. “Kenapa kau setubuhi anakmu sendiri, hah?!”
“Diam, kau!” Tukas pria paruh baya itu, “Bajingan?!”
“Kenapa kamu membiarkan istrimu melakukan perbuatan itu, hah? Aku kira kamu orang yang shaleh. Aku keliru menilaimu, kamu dan istrimu sama saja busuk!!” Masih dalam keadaan menangis. “Perbuatannya memaksaku menyetubuhinya.”
Atas dasar penyesalan yang kian mendalam, pria paruh baya yang merupakan ayah dari wanita yang setubuhinya tadi menjerumuskan diri dalam kegelapan yang mengepung jalan setapak dan dipenuhi hewan buas hingga melata. Terdengar berbagai macam hewan buas saling merebut santapannya, tubuh pria paruh bayah itu. Lelaki yang tubuhnya masih dalam keadaaan kaku itu menangis sejadinya, ia berteriak hingga menyadarkan wanita yang terikat di tiang itu.
“Suamiku?” Ucapnya, lemas. “Kenapa kamu ada di sini? Apa kamu menyaksikan keadan tadi? Oh, maafkanlah istrimu ini.”
“Tidak, tidak istriku.” Jawab lelaki yang tubuhnya masih kaku itu. “Kamu tak bersalah, aku yang membiarkanmu melakukan ini. Aku terlalu sibuk dengan urusanku, hingga tak peduli dengan perbuatanmu.”
Suara hewan buas di balik gelap, kini semakin mendekat. Lelaki itu semakin cemas, ingin ia berlari dan melepas tali yang mengikat istrinya, namun keadaan tak mendukung. Tubuhnya tak bisa digerakkan, walau sekadar menoleh. Dua hewan buas dengan jenis paling menyeramkan, muncul dari kegelapan samping kanan dan kiri jalan setapak. Sesaat, dua hewan itu menatap wajah lelaki yang tubuhnya masih kaku, dan berbalik menatap wanita yang terikat di tiang tadi. Mulut lelaki itu kini terbungkam seketika, entah apa yang terjadi, ia tak tahu. Kini ia tak bisa berteriak mengucapkan sumpah serapah untuk mengalihkan perhatian dua hewan buas dari jenis yang paling menyeramkan itu. Di depan matanya, disaksikannya dua hewan buas itu melahap tubuh istrinya yang terikat di tiang, hingga bagian-bagian tubuhnya saling pisah antara satu dengan yang lain. Dua hewan itu kemudian berbalik ke arahnya. Suaranya kini telah kembali, tubuhnya pun sudah bisa digerakkan. Ia berlari sambil berteriak mengikuti arah jalan setapak.
“Tolong!!” Teriaknya, “Siapapun, tolong aku!!”
Ia berlari sekencang-kencangnya, hingga dari kejauhan dengan jarak kurang lebih 100 meter, dilihatnya seorang pria berpakaian formal dengan jas putih dan stetoskop tertancap di telinganya, berdiri seakan menantikan kehadirannya. Ia membujuk pria berjas putih itu untuk segera menyelamatkan diri, namun pria berjas putih itu segera meraih tangannya, dan dengan sekali hantam kepalan tangan pria berjas itu, lelaki yang dikejar dua hewan buas itu kini telah sadar.
“Bangunlah!!” Kata dokter, “Istrimu sudah tiada.”
Ia terbangun dari tidurnya dan sadar ternyata semua yang terjadi hanyalah buah tidur. Dan dilihatnya istri yang malang kini sudah berantakan, bagian tubuhnya saling pisah antara satu dengan yang lain. Entah apa yang terjadi ketika ia tenggelam dalam tidur, ia tak tahu.

Biodata Penulis :

Pandu Kalam, lahir di Desa Kalampa, Kecamatan Woha, Bima-NTB pada tanggal 04 Juli 1999. Kini merantau ke Singaraja-Bali dan aktif di organisasi dalam maupun luar kampus. Hobi menulis semenjak duduk di bangku perkuliahan, kegemaarannya menulis cerpen dan esai, serta sering mengikuti event menulis yang diadakan oleh kampus-kampus yang ada di Indonesia, antara lain event Karya Tulis Ilmiah dan Karya Sastra. Bisa dihubungi melalui nomor gawai/Whatsapp 085338297575, email panduhidayat4@gmail.com, dan instagram pandu_kalam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here