(Ket, Lukisan adalah milik Tamar Saraseh)

NENEK PENJUAL JAGUNG BAKAR di ALUN-ALUN KOTA SUMEKAR


Wewangi tubuhnya berbalut musim

Seperti bunga setaman bermekaran

Harumnya dicuri terbang kumbang ke-Mustawan

Sekeranjang jagung di sampingnya 

Bukti ketaatan pada suami dan zaman

Tangannya menari fasih, genit mengupas jagung dari kulit menghijau

Sefasih bibirnya senada dzikir.

Kipas lusuh di tangan kanan

Bergerak nada doa

Menyemburkan nyala api pengabdian

Asap mengepul dari tungku kecilnya

Secumbutan arang ia ambil dari plastik hitam

Sehitam nasibnya kelam.

Senja menua di atas menara

Panggilan cinta berkumandang mesra

Nenek renta berparas bidadari

Pada pembelinya bersorot mata Ifrit

Pamit menemui kekasih paling kekasih dalam hati

“Nak, nenek sebentar saja mengulang lagu rindu

Sebab khawatir tak ada lagi waktu

Semakin kriput waktuku”

Dari dalam tas kusam kecokelatan

Tangannya menggamit mukena

Sajadah tua memudar warnanya

Sambil menciumi mesra

Berbutir mutiara luruh bagai embun dari kelopak bunga.

Langkahnya menyeret zaman jalang

Senyumnya masih indah sekali

Melukis malakut

Di gerbang masjid agung

Langkah seoknya terhenti sejenak

Senada tangan getar 

Kelopak bunga teratai di bawah alisnya

Menyimpan gemuruh gelombang sejarah

Suaminya terbaring indah di lencak   anyaman bambu

Sejak dua puluh lima tahun silam.

Senyum rilis historis

Seolah masih kemarin

Dirinya gadis di pelaminan

Dia terima mahar pernikahan

Mukena dan sajadah pengikat akhirat dan cinta

Kini tua memudar warnanya.




Masjid Agung Sumenep, 14-06-19

BALADA CAMAR PANTAI TALISE BUAT PALU

 

Satu purnama saat camar menyelesaikan tafakur di sarangnya

Kembali ia samadi di Pantai Talise

Pantai tempat ribuan peri bercermin

Tempat ribuan peziarah membaca resah

Pantai serekah ribuan mawar berduri

Ranumnya mekar melati.

Fajar meminang embun tak selazim hari berlepasan

Ada riak mengantar alamat sanksi

Camar sering menjerit-jerit tanpa dimengerti.

Bagaskara mencumbu biru air laut

Berpeluk buih erat terus berpaut

Buih warna kelabu melamur putih cerlang

Buih menari lunglai meski isyaratnya tak jua sampai

Bagaskara kian meninggi bergerak setegak Masjid Apung

Warnanya sorot bianglala di atas kubahnya

Meski terus menulis alamat air mata.

“Siapa bisa membaca isyarat ini?

  Nanti sore bumi tak lagi berdzikir bersama matahari

  Laut hilang rindu

  Bumi hilang cinta

  Laut melukis sangsai dan ilu

  Bumi menanam benih air mata

  Keduanya berhimne samsara.”

Suara camar di sepanjang pantai

Dalam gubahan lagu balada derit sangsai.

“Bila saja aku tak mengingkari titah Tuhan

  Niscaya sayap-sayapku patahkan

  Aku jadikan pena

  Cerabutilah bulu-buluku, aku jadikan kertas

  Paripurna putihnya

  Darahku, aku jadikan tinta

  Tulislah nawala biar mereka jelas membacanya

  Apabila masih ragu dan belum tuntas menuliskannya

  Lolosilah, tulang-tulangku jadikan kuas

  Dan dagingku jadikan kanvas

  Lukislah semua sampai benar-benar jelas”

Kembali camar itu terbang kaku

Dari matanya leleh segumpal mutiara beku.

Saat cakrawala melukis puncak menara

Saat camar mulai letih menyanyikan baladanya

Kami sibuk menata kedai di pinggir pantai

Kami masih baru mencuci kaki selepas berkebun

Kami baru melaksanakan tugas di kantor

Kami baru menutup pertokoan.

Benar saja….

Gempa getar, habiskan semua keberanian

Jalanan gemeretak ibarat cermin retak

Rumah-rumah runtuh ibarat air hujan luruh

Toko, perkantoran, Pemukiman tesedot tanah ibarat istana qorun

Kebun, hutan di bebukitan lenyap ibarat debu beterbangan.

Benar saja….

Laut terbelah bukan karena tongkat musa dilemparkan

Namun, lautan memuntahkan tiga gelombang

Jembatan kuning setiap sore kilau keemasan

Kini hanyalah artefak dalam ingatan.

Pantai Talise gebyar ratusan kedai

Bagai ribuan bebunga baru mekar

Seketika serupa taman bunga hancur diserang binatang kesurupan

Nyawa meregang setamsil gonggong anjing tiada harga buat petualang

Harta hilang serupa anai-anai dihempas badai

para suami adalah kumbang disergap kesepian 

Para istri ejawantah teratai bunga basah

Anak-anak seketika yatim ibarat lebah-lebah tersesat .

Gempa bumi, Tsunami, melunasi sumpah pada Ilahy.


Darusa Sumenep, 08-10-2019





ELEGI BERDURI AHMAD dan KLARISA

(Dua Pemuda Asal Palu Dipotret Rengsa) 


Mereka berdua sejak lima belas tahun silam

Setiap pagi duduk mesra mengeja fajar

Mengaji embun di ujung daun nyior

Memaknai belai angin di rambutnya

Yang kerap memanen sepi

Melafalkan kidung gelombang menyapa pantai

Menuliskan doa setia karang pada ombak membelai.

Mereka berdua setiap sore tafakur cinta

Membedah perut cakrawala dalam doa

Menggali kubur cahaya bagaskara dari puncak mega

Bertegur camar pamit balik ke sarang

Di antara riuh rendah toa menara-menara

Lima waktu seruan cinta

Di telinga Ahmad, Klarisa selalu berbisik rindu yang gebu.

Begitu saban minggu menjelang

Sambil menyiapkan jamuan kudus

Menuangkan sakramen mesra kristus

Ahmad, membunyikan lonceng gereja di dekat rumahnya.

Ketika senja menua warnanya

Seperti biasa sehabis tafakur cinta

Mereka berpisah di depan rumah

Sambil melambaikan tangan ucap pisah.

“Ahmad, bila saatnya nanti agama tak memperebutkan Tuhan

  Bila saatnya nanti agama tak hanya khusuk bicara perang

  Artinya kita berdua membicarakannya telah usai”

Dari bibirnya terucap sambil berbisik

Menyemerbak aroma nafas semesta.

“Klarisa, bila kelak tak ada pedang di mulut kaum agamawan

  Tak lagi meludahkan racun pembantaian

  Artinya kia berdua telah sama-sama meraih surga”

Matanya yang menyimpan ribuan luka

Menggelar jawab seirama.

diangka akhir september almanak masehi

Kebersamaan mereka berdua disembelih sepi

Kodrati manusiawi hanya tinggal Elegi berduri

Kemesraan sebagai metafor dua keyakinan

Hilang bersama lindap dan gelombang.

Ahmad, tangan kanannya mendekap Qur’an kesayangan

Cendera mata Klarisa saat ulang tahun

Tangan kirinya memegang lengan ibundanya

Dengan mukena cerlang warnanya.

Klarisa, menggenggam erat liontin salip

Bersama nawala pemberian Ahmad

Sirah juru damai Yesus dan Muhammad.

Tak ada sesal menghapus lara

Air mata bahasa lain dari darita.

Mereka berdua mesra dalam peluk sang Kuasa.

Darusa Sumenep, 10-10-2018


Dimas Midzi

Panggilan akrab TIRMIDZI THAHIR A.S ini lahir pada tanggal 18 JUNI 1984 di Sumenep, kota paling timur dari kepulauan Madura. Masa kecilnya dihabiskan di desa kelahirannya. Hampir sepuluh tahun sejak 2000 silam melanglang buana ke tanah rantau. Situbondo (nyantri di pesantren Salafiyah Syafi’iyah sukorejo situbondo), Malang, Gresik, Kediri, Jogjakarta pernah disinggahinya. Kini aktif menjadi santri dan pemerhati kesenian di pesantren Miftahul Huda di desa kelahirannya. Pesantren yang memberikan pengetahuan dasar dalam bersastra dan berkesenian lainnya.

Dirinya menjadi penggagas sanggar Merdeka di pesantren Miftahul Ulum Lenteng Barat, Penggagas Komunitas Aksara di desa Ellak Laok lenteng, Forum Lingkar Muda Miftahul Huda. Menjadi penggerak utama Kampoeng Baca Basmalah di kampungnya. Sekaligus membantu membidani kegiatan bersastra SMAI Sabilul Huda Gadu Ganding Sumenep Madura.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here