Foto Fajar Hiddayat

Wasilah Ranting

Ini tentang sepotong ranting yang kesepian,menunggu pelukan hujan dan cumbuan bulan di keheningan. Sepanjang waktu, dipanggillah tunas bersemi sambil menahan gigil kehilangan. Rintih hatinya seperti lagu-lagu para sufi. Kepasrahan.

Sepertinya lelah, dihantam musim. Tengadah menahan angin sebelum pelan-pelan patah jatuh berderai. Sujud bumi, sujud langit, sujud segala angin yang menggerakkan yang berhenti.

Ini tentang sepotong ranting, yang selalu lupa di mana menanggalkan daun, lupa mengelupaskan kulit, lupa di mana burung-burung pernah menyembunyikan sarang. Memberikan kehidupan baru, bagi anak-anak yang selalu ingin mengubah sayapnya.

Berapa lama patah, betapa sakit luka hanya sesaat mengikat rasa. Setelahnya cerita yang hinggap di bibir pecah pengelana sunyi.
:wasilah belaka

Munggu, Des 2018

MENIKAHI SEPI

Sepi ini berputar di kepala, serupa baling-baling, terbang berkeliling ke penjuru hati. Kuwiridkan doa dengan mengeraskan suara agar sampai ke hatimu yang didera semua rasa. Tuhan bersamamu begitu kata batinku.

sepandang cakrawala, kau ajari menangkis sepi dengan cara paling santun. Tak banyak kata-kata selain merengkuhku dengan bisikan angin, “Aku sering mimpi, kebahagiaanku mengapung pada puisi-puisimu.” begitu katamu.

Aku memeluk malam, dengan segala cara. Membacakan sebait puisi sebelum kau tidur dengan damai. Kukatakan sedikit rayuan agar kau seperti yang lain. Bahagia.

Sepi ini tak pernah berhenti, selalu beriring di samping kita. Menjelajah ruang tunggu tempat meletakkan rindu. Kita memang sepakat, menikahi sepi. Aku dan kau jadi pengantin, sederhana saja. Seharusnya bahagia.

ELEGI PAGI

Subuh, aku memadamkan lampu-lampu. Lalu, duduk merasai embun yang malas melepas daun. Sejenak kehilangan bayangan, tak ada cermin seperti ketika lampu-lampu menyala. Hanya aku dan Dia tepekur mendzikirkan sunyi
:hati-hati

ribuan petisi berkecamuk sebelum melahirkan puisi-puisi yang merasa sebagai anak tiri. luput dari mata hati yang katanya selalu memasang sayap kiri. bisakah aku menukar dengan sedikit kebaikan agar bisa mendiami sayap kanan, dan terjadi keseimbangan?

rumah-rumah membuka pintu, memenuhi dada dengan kebaikan. lupa gerimis yang membekukan keinginan. sepasang burung tunaikan birahi dalam sarang di pohon-pohon sebelum memanggil matahari untuk menyempurnakan.
percayakah bahwa hari ini matahari akan enggan menyapa? katanya bumi telah menyala sepanjang malam dengan teriakan dan makian dari orang terkucil yang semalam mandi kekayaan.

diam-diam semua sibuk menjemput matahari. mematut, mengukur seberapa bayang menjadi cermin. atau bahkan lupa seberapa penting bayangan bagi tubuh.

kelak jika berdiri dan tak ditemukan bayangan, kemana mencari penerang?

lebih jauh, puisi makin kekeringan di bulan januari. saat hujan merendam matahari.
kata-kata hangus di meja politisi.
dan penyair sibuk menggali lubang atas kematian puisi-puisinya.

Batu, 11.1.18

Indah Patmawati, dari Kota Madiun.
Bekerja sebagai widyaiswara di kota Batu.
Menulis merupakan kesenangan, meski hanya untuk dinikmati sendiri.

(Foto Latar: Fajar Hidayat, Fotograper asal Sumenep)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here