Lukisan Tamarsaraseh
GADIS KECIL DAN PEMBAWA LENTERA
 
Gadis berambut pucat, pergi jauh terbawa arus matahari
setelah musim menua
jalanan tak lagi mengeluarkan uap dari tanah yang subur
matanya seakan terjatuh
kakinya berlari dalam kesunyian, sepi dan sepi.
 
Pada suatu ketika di musim dingin tiba.
terlihat cahaya dari kejauhan
lentera kecil, di tangan pengembara yang kehilangan pelabuhan
 
Gadis kecil bermata biru
lambaian rambutnya memanggil
rumah yang dituju semakin dekat
tempat pulang yang pernah terlukis di dinding kamarnya
Siapakah ia?
Siapakah angin yang membuka jendela di matanya?
lalu tabir menyingkap kegelapan
dan senyumnya terbang menuju langit berbintang,
tanpa suara kecemasan.
 
Bsb, 21Juni 2020
 
KIDUNG PENGEMBARA
 
Jangan pulang tanpa cerita!
 
Setelah jauh berjalan
setiap musim merekam jejak di persimpangan
masa lalu yang patah,
seperti sebatang pohon tua
akan tumbang dalam amukan kegalauan.
 
Tahun di musim kemarau
daun-daun gugur
di rantau-rantau
kampung halaman yang tenggelam di balik malam
berlari menuju pagi yang dingin
memetik buah rindu
seraya memikul anak-anak waktu
melahirkan mimpi di antara potongan doa.
 
Suatu ketika
mereka akan duduk bersama
bercerita, setelah peluh kering dalam pelukan senja
tentang negeri para pemahat kata,
pelukis bayang-bayang
pendiri benteng-benteng sepi.
 
Kepulangan akan datang
tapi masih banyak cerita yang akan dituntaskan!
 
Bsb, 051019
 
SETELAH BULAN TAK LAGI MERAH
 
Setelah bulan tak lagi merah,
apa yang hendak kau lukis di kelopak senja?
mata yang pekat
tatapan masa lalu
 
Di ambang neraka, atau surga mana akan kau tambatkan lelah?
seakan dunia hanya lembaran-lembaran kosong
terlipat, dan terlupakan.
 
Setapak jalan yang lindap di balik kenangan
wajah-wajah terjebak dalam kemurungan
 
Setiap kisah yang pecah
Setiap alur yang tertarik ulur
Setiap langkah yang tergesa
Dan, setiap degup yang kian rawan
 
Jika tiba waktu gelap
pulanglah ke dalam cahaya
serahkan seluruh hari yang mengatup di bawah mimpi
seperti ayunan rindu yang sembunyi di daun matamu
dan semerah darah yang membakar jantungmu
di antara kebekuan yang mencair
di ujung-ujung malam
lalu menetes serupa embun
sebelum fajar menjadi pijar paling hambar.
 
Bsb, 26 Maret 2020
 
Poetry Aulia, kelahiran Indonesia yang tinggal dan menetap di Brunei Darussalam. Seorang pencinta seni dan sastra yang telah melahirkan dua buku berjudul Detik Sunyi(2017) dan Sajak Semusim(2018). Dan satu antologi puisi bersama(2019). Aktif dalam pembuatan video puisi di chanel youtube.
 
Instagram : @depoetrylia_

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here