SEBELUM WAKTU BAGIKU USAI

aku ingin menjadi cahaya kecil
bagi lorong gelap yang mungkin akan kau lalui
cahayaku sebatas ujung kaki ketika melangkah
aku berharap naluri petualang menolongmu tak jatuh ke jurang
juga bekal kebaikan yang telah dibisikkan ke telingamu
sejak kau menangis meninggalkan rahim ibu
suara adzan tersimpan di pita telinga kananmu
selanjut adalah doa yang tak pernah berhenti
berharap kebaikan selalu menghampiri
berharap kemuliaan selalu dimiliki
berharap kebenaran selalu dijalani

bila senja menghampiriku
tangan kurusku mungkin tak mampu lagi melambai kepadamu
isyarat memanggil ataupun mengucapkan selamat jalan
mata pun tak dapat lagi mengenali wajahmu
apalagi untuk mengetahui-apakah ada air mata di pipimu atau senyum di sudut bibirmu
juga telinga ini yang kehilangan cerita
tangis maupun tawa
atau rengekkan mu yang membuat aku tangguh untuk menunaikan semua impian

bilapun kita harus berpisah
entah senja harus menelan ku
atau takdir menghentikan langkah beliamu
aku berharap pada doa kita
dari sudut dan sujud yang benar
menyelamatkan kita untuk menempuh jalan pulang

              Takengon, 2019

MATA PEDANG

senantiasa berkilau terasah
batu memberi dua sisi keinginan
menumpulkan – menajamkan
menunggu takdir terhunus atau diam
benar atau salah
khilaf atau penyesalan
jangan kambing hitamkan tangan
kilau mata pedang tidak merayu
hati yang tak terpimpin
liar menggenggam kemarahan

mata pedang hanyalah batu
diam tidak memberi pilihan
hitam atau pun putih
hatilah yang memberi tanda
dan tangan hanyalah budak bagi nafsu
kurir yang tak tahu alamat

ketika mata pedang tertancap di ulu hatimu
akan kau sadari
mata pedang tak memiliki tuan dan tak memilih musuh

                Takengon, 2019

MATA HATI

setebal apapun kabut
selalu terbuka dan takkan buta
biarkan saja
kebenaran menjadi raja
walau kedzaliman tak henti mengusik tahkta

              Takengon, 2019

MATA PENA

tidak pernah melahirkan kata-kata
dan bukan tinta yang menentukan tulisan
kertas seperti perempuan yang bebas
menunggu di ruang yang sunyi
tidak terikat dan tidak terlibat kebutuhan apapun
hatilah raja
yang memiliki begitu banyak budak
dengan mata pena di setiap jemarinya

                 Takengon, 2020

Biodata Penulis :
WIN GEMADE. Lahir di Takengon, Aceh Tengah. Aktif menulis berbagai genre sastra. Puisi-puisinya telah dipublikasikan di media lokal dan nasional. Juga diterbitkan disejumlah antologi bersama. Di sela-sela kesibukannya sebagai tenaga pengajar, selalu menyempatkan diri untuk menulis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here