Lukisan tamarsaraseh
ADA YANG MENCURI TUBUHKU
Aku bacakan puisi untukmu
Diujung malam Januari, sembari
Bergetar mulut serupa jendela
Yang terbuka lebar
Menelan gelap
Mematikan lampu menutup jalan
Tak ada yang pergi ataupun datang
Februari aku hapus dari penanggalan
Ganjil genap serupa anak kunci
Yang memecah cermin lemari
Karena menjebak tubuhku, seluruhnya
Tak ada yang terluka, setelahnya
Aku mendengar langkah kaki
Bergetar di tanah
Mengendap-endap
Mencuri baju bekas keringatku
Di luar basah, tak ada yang hilang
Jejak hujan menghapus kotoran kakinya
Jember, 31 Januari 2020
HUJAN INI
Aku datang bersama hujan.
Mereka pergi bersama hujan.
Orang-orang bersimpangan mengejar kelebatan hujan.
Mataku basah, hujan tak memiliki baju plastik.
Mulutku kering, hujan makan tepi jalan.
Tanganku ngilu, hujan tak menanam padi lagi.
Tubuhku letih, mengangkat hujan yang tersangkut di selokan
Hujan dan penyeberangan bukan lagi kenangan manis dikotaku.
Sumenep, 14022020
KELAS ILMU PASTI
 
Aku ceritakan sesuatu
Kelas sepi, bangku-bangku belajar sendiri
Pintu menutup buku absen, jendela menatap keluar kelas
Bel siang itu telat berbelanja lauk pauk
Ibu guru menunda kehamilannya
Bapak guru tak lagi memakai kapur barus
Murid-murid berhamburan mencium ketiak temannya
Ada yang mencium punggung temannya
Ada yang menghitung langkahnya, buru-buru mengejar uang saku
Bapak ibu guru tak sempat belajar hitung-hitungan hidup dan mati
Pamekasan, 10022020

 

Yosuki Kyabaru, aktif di berbagai kesenian di Kabupaten Sumenep dan masih tercatat sebagai pengajar di sebuah lembaga pendidikan negeri di Sumenep.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here