SEORANG PEMUDA DUDUK DI SEBUAH BANGKU, MUNGKIN DI TEMPAT UMUM, MUNGKIN JUGA BUKAN. SEKILAS IA NAMPAK KEBINGUNGAN. SESEKALI SENYUM-SENYUM SENDIRI, KEMUDIAN TERTAWA.

Sodara-sodara, saya sebetulnya ingin berterima kasih, saya ingin mengungkapkan kebanggaan saya karena sodara-sodara sudah berkenan datang ke tempat ini, sekaligus melihat dan mendengarkan apa yang ingin saya sampaikan. Tetapi, 2 sampai 3 menit yang lalu, ketika saya melihat kalian berdatangan, sebagian duduk, sebagian lagi berdiri, sebagian mungkin masih di jalan menuju ke mari, saya tiba-tiba ragu, bahwa apa yang ingin saya sampaikan dan nantinya kalian akan dengar benar-benar hal penting dan kita berkumpul di sini tidak dalam rangka buang-buang waktu. Saya benar-benar ragu.

(DIAM) apa sebaiknya kita bubar saja dan dengan lapang dada menganggap acara ini sudah beres. Tak perlu ada pertanyaan. Tak perlu ada kesimpulan. Sodara-sodara bingung, saya lebih bingung lagi. Sodara-sodara kesal, saya apalagi. (HENDAK PERGI). Oh, tapi tunggu dulu. Bukannya kalian datang ke sini hanya ingin terhibur. Menghibur diri setelah persoalan yang menimpa diri kalian masing-masing tidak selesai-selasai, juga tanpa kasimpulan, bukan!

Kalau begitu, mendekatlah. Akan saya ceritakan kisah lucu perselingkuhan anak dengan Ibunya, atau Bapak dengan anak perempuannya. Menarik. Ya sangat menarik! Jadi pada suatu hari… E, sebentar…. Tidak. Tidak. Tidak… ini tidak lucu. Kalian tidak ada yang tertawa. Jadi, cerita ini benar-benar tidak lucu dan jelas bukan materi yang baik untuk menghibur. (TERTAWA) dari mana lucunya, lha wong anak nidurin Ibunya. Bapak ngebuntingin darah dagingnya sendiri. Dari mana lucunya…. (TERUS TERTAWA) Edan! Edan!

Saya butuh minum. Air… air… Saya agak haus. (MINUM). Dari mana lucunya… ya… ya…. (MENERUSKAN SISA-SISA TAWANYA).

“Memang tidak lucu, setan! Keparat! Sialan! Pergi kau dari rumahku.” Katanya, sambil menampar saya dan menendang berkali-kali. Saya cukup tahu diri, rumah itu memang bukan tempat yang baik buat saya. Saya hanya mengambil jaket kesayangan saya lalu pergi.

Saya muak dengan banyak hal yang terjadi di rumah itu, termasuk mungkin dengan kehidupan saya sendiri. Setiap saat pintu terbuka untuk siapa pun perempuan yang mau membuka bajunya di depan Ayah saya. Saya paham, kebutuhan biologis memang sulit dikendalikan, tetapi tidak dengan cara begitu. Setiap bangun tidur, bau alkohol membuat rumah itu menjadi begitu kecil dengan jendela yang sudah tidak sanggup berbuat sebagaimana fungsinya. Botol-botol berserakan di mana-mana, Ibu selalu membersihkannya. Air matanya sebatas genangan air yang ia cegah untuk berlinang.

Dia bilang: “Perempuan tidak dilahirkan untuk menangis. Air mata hanya akan membuatnya semakin tampak lemah dan tidak berdaya!” Terus terang saya tertawa dalam hati setiap kali mendengar Ibu bicara begitu, saya tahu inti perempuan dalam dirinya sudah lama hilang sejak Ayah berani memasukkan perempuan lain ke dalam rumah. Rumah yang akhirnya lebih tidak beradab, lebih murahan ketimbang Doli dan Saritem.

Suatu malam Ibu pergi entah kemana, diam-diam, mungkin sudah tak tahan. Mungkin juga sebagai inisiatif, sebelum anaknya melihat air matanya terpaksa berlinang dan merampas segala dalam dirinya. (TERTAWA) Ayah sama sekali tidak peduli, si tua bangka itu justru makin girang, tak ada lagi yang mengganggu kesenangannya bersama pelacur-pelacur jahanam itu.

“Hei, tahu apa kau soal hidup. Anak bau kencur sepertimu mana paham urusan orang tua. Paling-paling juga cuman minta duit buat beli permen sama susu. Ini, ambillah!”

“Sebaiknya kau pakai duit ini buat cari pelacur yang lebih molek.” Saya lemparkan duit itu ke arahnya. Ayah marah dan hendak memukul saya sebelum akhirnya tumbang ke lantai dan teler. Perempuan itu lantas menyeretnya ke kamar. Keduanya tertawa-tawa.

Sejak saat iu, setiap kali berhadapan dengan Ayah, saya tidak lagi merasa darah dalam tubuh saya adalah darahnya. Kita hanya kebetulan bertemu di rumah itu dengan urusan masing-masing. Saya tak mau ambil pusing, bahkan bila dia mau meniduri pelacurnya di hadapan saya sekali pun. (HENING).

Sodara-sodara, mungkin saya perlu minta maaf. Saya memang kurang bakat dalam perkara ini, rupanya menghibur itu memang tidak gampang. Jangankan untuk kalian, saya bahkan tidak tahu bagaimana cara melakukannya kepada diri saya sendiri. Terus terang, kalau boleh saya bilang, saya selalu gagal setiap kali mencobanya. Sesekali bahkan saya mengira, mudah-mudahan saya salah, belakangan ini seiring harga bahan-bahan baku melonjak naik, tawa pun ikut-ikutan menjadi tindakan yang amat mahal. Orang-orang macam saya atau mungkin juga sodara-sodara susah benar mendapatkannya. Padahal saya tidak yakin bahwa kegirangan itu hanya milik orang-orang kaya dan orang gila.

Gila. Gila. Benar-benar gila!
“Sudahlah, Perkutut Kecil, tak usah pikirkan orang tua itu. Ayolah… Mendekatlah… Ada wisata kuliner dalam diriku, tidakkah kau tertarik untuk mencicipi masakannya!”

Malam sedang gerimis, Sodara-sodara. (DIAM SEJENAK) Waktu itu di rumah tidak ada siapa-siapa. Perempuan itu datang mencari Ayah. Ayah sedang entah dimana bersama pelacurnya, entah yang mana. Perempuan itu nyelonong masuk begitu saja, sudah saya katakan Ayah tidak ada. Ia tak peduli. Ia bilang tak mungkin pulang sementara di luar gerimis berpotensi hujan besar. Tentu ini mitos hujan yang cukup klise untuk sebuah alasan.

Ia lantas duduk di sofa, menyilangkan kakinya. Beberapa saat menggosok-gosokkan tangannya, lalu meraih helai demi helai rambutnya yang agak lepek. Saya segera paham, ini adegan klasik yang arahnya sudah pasti bisa ketebak. Saya hanya memperhatikannya, mula-mula saya tidak peduli tetapi kemudian… Ya, kucing mana benar-benar bisa diam melihat ikan nganggur di depan matanya

(MENUNJUK-NUNJUK KE BERBAGAI ARAH) Segera saya melihat setan mulai sibuk. Bersama para kroninya, ia sekuat tenaga mencegah mata saya untuk berpaling dari perempuan itu. Membisiki telinga saya dengan suara yang dipadukan-padankan dengan rintik gerimis. Kepala saya dikendalikannya pada pikiran-pikiran yang semakin menjurus ke inti. Sebagian menyeret kaki saya, sebagiannya lagi mendorong dari belakang. Setan sialan. Selangkah lagi, saya…

“Perkutut Kecil, tunggu apa lagi… Lahan sudah terbuka, tinggal kau tanami!”
Celakanya, terus terang saya mulai ragu, jangan-jangan setan hanya saya jadikan kambing hitam atas ketidak-berdayaan diri saya sendiri menghadapi situasi itu. Kalau sudah begitu, ya susah. Malam itu, diantara kami, entah siapa sebagai setan dan siapa sebagai manusia.

Semakin malam semakin gerimis. Semakin… Ah! (TIBA-TIBA SEDIH BERCAMPUR MARAH) Saya tidak dapat melanjutkan cerita ini. Mengapa saya mesti menceritakan kehidupan saya kepada kalian, hah! Kalian siapa! Saya siapa! Apa urusan kita! Toh akhirnya kemalangan tetap milik masing-masing. Kita tidak bisa berbagi luka atas kesalahan yang kita perbuat sendiri.

“Keparat! Sialan!”
Dia datang tepat di saat anaknya menjelma dirinya di atas perempuan itu, di sofa itu. Ayah segera menghampiri saya, memaki-maki saya, menampar dan menendang-nendang saya sebelum akhirnya tersungkur lesu. Sementara saya masih berusaha menuntaskan lenguh.

“Sekarang apa yang ingin kau katakan, hah! Apa, katakanlah! Apa kau ingin bilang Ayahmu ini bajingan dan karena itu kau melakukan ini semua. Katakan, anakku! Apa mesti dengan cara ini kau membuat pengakuan bahwa aku ini Ayahmu, agar yakin bahwa darah yang mengalir di tubuhmu adalah darahku. Katakan, mengapa ini mesti terjadi!”


Malam tetap gerimis, sodara-sodara, dan urung menjadi hujan. Saya hanya sebentar memandangi sekeliling rumah. Saya sadar, rumah itu memang bukan tempat yang baik buat saya. Saya hanya mengambil jaket kesayangan saya lalu pergi.

Out.

S E L E S A I

Bandung, Juni 2012

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here